Hormon Pertumbuhan dan Tanaman

- Plant Biology – Biologi Tumbuhan

Growth Pertumbuhan

All living organisms begin in the same form: as a single cell. Semua organisme hidup mulai dalam bentuk yang sama: sebagai sel tunggal. That cell will divide and the resulting cells will continue dividing and differentiate into cells with various roles to carry out within the organism. Bahwa sel akan membagi dan sel-sel yang dihasilkan akan terus membelah dan berdiferensiasi menjadi sel-sel dengan berbagai peran untuk melaksanakan dalam organisme. This is life and plants are no different. Ini adalah hidup dan tanaman tidak berbeda. Plant growth can be determinate or indeterminate, meaning some plants will have a cycle of growth then a cessation of growth, breakdown of tissues and then death (think of a radish plant or a tomato plant) while others (think of a giant cedar tree) will grow and remain active for hundreds of years. pertumbuhan tanaman dapat menentukan atau tidak jelas, yang berarti beberapa tanaman akan memiliki siklus pertumbuhan maka penghentian pertumbuhan, kerusakan jaringan dan kemudian kematian (memikirkan tanaman lobak atau tanaman tomat), sedangkan (memikirkan pohon cedar raksasa) akan tumbuh dan tetap aktif selama ratusan tahun. A tomato plant is fairly predictable and is said to have determinate growth, while the cedar tree has indeterminate growing potential. Sebuah tanaman tomat cukup diprediksi dan dikatakan memiliki pertumbuhan menentukan, sedangkan pohon cedar memiliki potensi tumbuh tak tentu. Development refers to the growth and differentiation of cells into tissues, organs and organ systems. Pembangunan mengacu pada pertumbuhan dan diferensiasi sel ke dalam jaringan, organ-organ dan sistem organ. This again all begins with a single cell. Ini lagi semua dimulai dengan satu sel.

Plant Growth Regulators and Enzymes Pertumbuhan Tanaman Regulator dan Enzim

Genetic information directs the synthesis and development of enzymes which are critical in all metabolic process within the plant. Informasi genetik mengarahkan dan pengembangan sintesis enzim yang penting dalam semua proses metabolisme di dalam pabrik. Most enzymes are proteins in some form or another, are produced in very minute quantities and are produced on site—meaning they are not transported from one part of the organism to another. Kebanyakan enzim protein dalam beberapa bentuk atau lainnya, diproduksi dalam jumlah yang sangat menit dan diproduksi pada situs-yang berarti mereka tidak diangkut dari satu bagian dari organisme lain. Genetic information also regulates the production of hormones, which will be addressed shortly. Informasi genetik juga mengatur produksi hormon, yang akan ditangani segera. The major difference is that hormones are transported from one part of the plant to another as needed. Perbedaan utama adalah bahwa hormon diangkut dari satu bagian tanaman lain yang diperlukan. Vitamins vital in the activation of enzymes and are produced in the cytoplasm and membranes of plant cells. vital dalam aktivasi enzim dan diproduksi dalam sitoplasma dan membran sel tumbuhan Vitamin. Animals and humans utilize plants in order to provide some vitamin resources. Hewan dan manusia memanfaatkan tanaman dalam rangka menyediakan beberapa sumber vitamin. In general, hormone and vitamin effects are similar and are difficult to distinguish in plants, and both are referred to in general as plant growth regulators. Secara umum, hormon dan efek vitamin adalah sama dan sulit dibedakan pada tanaman, dan keduanya disebut secara umum sebagai pengatur pertumbuhan tanaman.

Plant Hormones Hormon Tanaman

The growth and development of a plant are influenced by genetic factors, external environmental factors, and chemical hormones inside the plant. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman dipengaruhi oleh faktor genetik, faktor lingkungan eksternal, dan hormon kimia di dalam pabrik. Plants respond to many environmental factors such as light, gravity, water, inorganic nutrients, and temperature. Tanaman menanggapi banyak faktor lingkungan seperti cahaya, gravitasi, air, nutrisi anorganik, dan suhu.

Groups of Hormones Kelompok Hormon

Plant hormones are chemical messengers that affect a plant’s ability to respond to its environment. hormon tanaman adalah pembawa pesan kimiawi yang mempengaruhi kemampuan tanaman untuk menanggapi lingkungannya. Hormones are organic compounds that are effective at very low concentration; they are usually synthesized in one part of the plant and are transported to another location. Hormon adalah senyawa organik yang efektif pada konsentrasi sangat rendah, mereka biasanya disintesis di salah satu bagian dari tanaman dan diangkut ke lokasi lain. They interact with specific target tissues to cause physiological responses, such as growth or fruit ripening. Mereka berinteraksi dengan jaringan target spesifik untuk menyebabkan respon fisiologis, seperti pertumbuhan atau pematangan buah. Each response is often the result of two or more hormones acting together. Setiap respon sering hasil dari dua atau lebih hormon bertindak bersama-sama.

Because hormones stimulate or inhibit plant growth, many botanists also refer to them as plant growth regulators. Karena hormon merangsang atau menghambat pertumbuhan tanaman, botanis banyak juga merujuk kepada mereka sebagai pengatur pertumbuhan tanaman. Many hormones can be synthesized in the laboratory, increasing the quantity of hormones available for commercial applications. Banyak hormon dapat disintesis di laboratorium, meningkatkan kuantitas hormon yang tersedia untuk aplikasi komersial. Botanists recognize five major groups of hormones: auxins, gibberellins, ethylene, cytokinins, and abscisic acid. Botanis mengakui lima kelompok utama hormon: auxins, giberelin, etilen, sitokinin, dan asam absisik.

Auxins Auxins

Auxins are hormones involved in plant-cell elongation, apical dominance, and rooting. Auxins adalah hormon yang terlibat dalam perpanjangan sel tumbuhan, dominasi apikal, dan perakaran. A well known natural auxin is indoleacetic acid, or IAA which is produced in the apical meristem of the shoot. Sebuah auksin alami terkenal adalah asam indoleacetic, atau IAA yang diproduksi di meristem apeks pucuk. Developing seeds produce IAA, which stimulates the development of a fleshy fruit. Mengembangkan bibit menghasilkan IAA, yang merangsang perkembangan buah berdaging. For example, the removal of seeds from a strawberry prevents the fruit from enlarging. Misalnya, pemindahan benih dari buah stroberi mencegah dari pembesaran. The application of IAA after removing the seeds causes the fruit to enlarge normally. Penerapan IAA setelah mengeluarkan biji menyebabkan buah untuk memperbesar normal. IAA is produced in actively growing shoot tips and developing fruit, and it is involved in elongation. IAA diproduksi di pucuk tumbuh aktif dan buah berkembang, dan terlibat dalam perpanjangan. Before a cell can elongate, the cell wall must become less rigid so that it can expand. Sebelum sel bisa memanjang, dinding sel harus menjadi kurang kaku sehingga bisa berkembang. IAA triggers an increase in the plasticity, or stretchability, of cell walls, allowing elongation to occur. IAA memicu peningkatan plastisitas, atau stretchability, dari dinding sel, memungkinkan pemanjangan terjadi.

Synthetic Auxins Sintetis auxins

Chemists have synthesized several inexpensive compounds similar in structure to IAA. Kimiawan telah disintesis beberapa senyawa murah strukturnya serupa dengan IAA. Synthetic auxins, like naphthalene acetic acid, of NAA, are used extensively to promote root formation on stem and leaf cuttings. auxins sintetik, seperti asam naftalen asetat, NAA, digunakan secara ekstensif untuk mempromosikan pembentukan akar pada batang dan stek daun. Gardeners often spray auxins on tomato plants to increase the number of fruits on each plant. Kebun auxins semprot sering pada tanaman tomat untuk meningkatkan jumlah buah-buahan pada setiap tanaman. When NAA is sprayed on young fruits of apple and olive trees, some of the fruits drop off so that the remaining fruits grow larger. Ketika AAN disemprotkan pada buah muda apel dan pohon zaitun, beberapa buah drop off sehingga sisa buah-buahan tumbuh lebih besar. When NAA is sprayed directly on maturing fruits, such as apples, pears and citrus fruits, several weeks before they are ready to be picked; NAA prevents the fruits from dropping off the trees before they are mature. Ketika AAN disemprotkan langsung pada buah jatuh tempo, seperti apel, pir dan buah jeruk, beberapa minggu sebelum mereka siap untuk dipetik dan NAA mencegah buah dari pohon berjatuhan sebelum mereka dewasa. The fact that auxins can have opposite effects, causing fruit to drop or preventing fruit from dropping, illustrates an important point. Fakta bahwa auxins dapat memiliki efek yang berlawanan, menyebabkan buah untuk menjatuhkan atau mencegah buah dari menjatuhkan, menggambarkan poin penting. The effects of a hormone on a plant often depend on the stage of the plant’s development. Efek dari hormon pada tanaman seringkali tergantung pada tahap perkembangan tanaman.

NAA is used to prevent the undesirable sprouting of stems from the base of ornamental trees. AAN digunakan untuk mencegah tidak diinginkan tumbuh batang dari pangkal pohon hias. As previously discussed, stems contain a lateral bud at the base of each leaf. Seperti dijelaskan sebelumnya, batang mengandung tunas lateral pada dasar setiap daun. IN many stems, these buds fail to sprout as long as the plant’s shoot tip is still intact. DI banyak batang, tunas ini gagal untuk tumbuh selama pucuk tanaman yang masih utuh. The inhibition of lateral buds by the presence of the shoot tip is called apical dominance. Penghambatan tunas lateral oleh kehadiran pucuk disebut dominasi apikal. If the shoot tip of a plant is removed, the lateral buds begin to grow. Jika ujung tunas tanaman dihapus, tunas lateral mulai tumbuh. If IAA or NAA is applied to the cut tip of the stem, the lateral buds remain dormant. Jika IAA atau NAA diterapkan untuk memotong ujung batang, tunas lateral tetap terbengkalai. This adaptation is manipulated to cultivate beautiful ornamental trees. Adaptasi ini dimanipulasi untuk membudidayakan pohon-pohon hias yang indah. NAA is used commercially to prevent buds from sprouting on potatoes during storage. AAN digunakan secara komersial untuk mencegah tunas dari tunas pada kentang selama penyimpanan.

Another important synthetic auxin is 2,4-D, which is an herbicide, or weed killer. Lain auksin sintetik penting adalah 2,4-D, yang merupakan herbisida, atau pembunuh gulma. It selectively kills dicots, such as dandelions and pigweed, without injuring monocots, such as lawn grasses and cereal crops. Ini selektif membunuh dikotil, seperti dandelion dan pigweed, tanpa monokotil melukai, seperti rumput rumput dan tanaman sereal. Given our major dependence on cereals for food; 2,4-D has been of great value to agriculture. Mengingat ketergantungan utama kita pada sereal untuk makanan; 2,4-D telah nilai besar untuk pertanian. A mixture of 2, 4-D and another auxin, called Agent Orange, was used to destroy foliage in the jungles of Vietnam. Campuran 2, 4-D dan auksin lain, disebut Agen Oranye, digunakan untuk menghancurkan dedaunan di hutan Vietnam. A non-auxin contaminant in Agent Orange has caused severe health problems in many people who were exposed to it. Sebuah kontaminan non-auksin dalam Agen Oranye telah menyebabkan masalah kesehatan yang parah pada banyak orang yang terkena itu.

Gibberellins Giberelin

In the 1920’s scientists in Japan discovered that a substance produced by the fungus Gibberella caused fungus-infected plants to grow abnormally tall. Pada 1920 para ilmuwan di Jepang menemukan bahwa zat yang diproduksi oleh jamur Gibberella disebabkan tanaman yang terinfeksi jamur untuk tumbuh tinggi. The substance, named gibberellin, was later found to be produced in small quantities by plants themselves. Substansi, bernama giberelin, kemudian ditemukan untuk diproduksi dalam jumlah kecil oleh tanaman sendiri. It has many effects on a plant, but primarily stimulates elongation growth. Ini memiliki banyak efek pada tanaman, tetapi terutama merangsang pertumbuhan pemanjangan. Spraying a plant with gibberellins will usually cause the plant to grow to a larger than expected height, ie greater than normal. Penyemprotan tanaman dengan giberelin biasanya akan menyebabkan tanaman untuk tumbuh lebih besar dari ketinggian yang diharapkan, yaitu lebih besar dari biasanya.

Like auxins, gibberellins are a class of hormones that have important commercial applications. Seperti auxins, giberelin adalah kelas hormon yang memiliki aplikasi komersial penting. Almost all seedless grapes are sprayed with gibberellins to increase the size of the fruit and the distance between fruits on the stems. Hampir semua anggur tanpa biji yang disemprot dengan giberelin untuk meningkatkan ukuran buah dan jarak antara buah-buahan di batang. Beer makers use gibberellins to increase the alcohol content of beer by increasing the amount of sugar produced in the malting process. pembuat Beer menggunakan giberelin untuk meningkatkan kandungan alkohol bir dengan meningkatkan jumlah gula yang dihasilkan dalam proses Malting. Gibberellins are also used to treat seeds of some food crops because they will break seed dormancy and promote uniform germination. Giberelin juga digunakan untuk mengobati bibit dari beberapa tanaman pangan karena mereka akan mematahkan dormansi benih dan mempromosikan perkecambahan seragam.

Ethylene Etilena

The hormone ethylene is responsible for the ripening of fruits. The etilen hormon bertanggung jawab atas pematangan buah. Unlike the other four classes of plant hormones, ethylene is a gas at room temperature. Berbeda dengan empat kelas lain hormon tanaman, etilena adalah gas pada suhu kamar. Ethylene gas diffuses easily through the air from one plant to another. gas Ethylene berdifusi dengan mudah melalui udara dari satu tanaman yang lain. The saying “One bad apple spoils the barrel” has its basis in the effects of ethylene gas. Bunyi “Satu apel buruk merusak laras” memiliki dasar dalam efek gas etilena. One rotting apple will produce ethylene gas, which stimulates nearby apples to ripen and eventually spoil because of over ripening. Satu apel busuk akan menghasilkan gas ethylene, yang merangsang apel terdekat untuk mematangkan dan akhirnya merusak karena lebih dari pematangan.

Ethylene is usually applied in a solution of ethephon, a synthetic chemical that breaks down and releases ethylene gas. Etilen biasanya diterapkan dalam larutan Ethephon, bahan kimia sintetik yang memecah dan melepaskan gas ethylene. It is used to ripen bananas, honeydew melons and tomatoes. Hal ini digunakan untuk mematangkan pisang, melon melon dan tomat. Oranges, lemons, and grapefruits often remain green when they are ripe. Jeruk, lemon, dan grapefruits sering tetap hijau ketika mereka masak. Although the fruit tastes good, consumers often will not buy them, because oranges are supposed to be orange, right? Meskipun buah rasanya yang enak, konsumen sering tidak akan membelinya, karena jeruk seharusnya jeruk, kan? The application of ethylene to green citrus fruit causes the development of desirable citrus colors, such as orange and yellow. Aplikasi etilena untuk buah jeruk hijau menyebabkan perkembangan warna jeruk diinginkan, seperti oranye dan kuning. In some plant species, ethylene promotes abscission, which is the detachment of leaves, flowers, or fruits from a plant. Pada beberapa spesies tanaman, etilena mempromosikan amputasi, yang merupakan detasemen daun, bunga, atau buah dari tanaman. Cherries and walnuts are harvested with mechanical tree shakers. Ceri dan kenari dipanen dengan shaker pohon mekanis. Ethylene treatment increases the number of fruits that fall to the ground when the trees are shaken. pengobatan Ethylene meningkatkan jumlah buah yang jatuh ke tanah ketika pohon-pohon terguncang. Leaf abscission is also an adaptive advantage for the plant. amputasi Daun juga merupakan keuntungan adaptif untuk tanaman. Dead, damaged or infected leaves drop to the ground rather than shading healthy leaves or spreading disease. Mati, rusak atau terinfeksi drop daun ke tanah daripada naungan daun sehat atau penyebaran penyakit. The plant can minimize water loss in the winter, when the water in the plant is often frozen. Pabrik dapat meminimalkan kehilangan air di musim dingin, ketika air di pabrik sering beku.

Cytokinins Sitokinin

Cytokinins promote cell division in plants. Sitokinin mempromosikan pembelahan sel pada tumbuhan. Produced in the developing shoots, roots, fruits and seeds of a plant, cytokinins are very important in the culturing of plant tissues in the laboratory. Diproduksi dalam, akar berkembang pucuk, buah dan biji tanaman, sitokinin sangat penting dalam kultur jaringan tanaman di laboratorium. A high ratio of auxins to cytokinins in a tissue-culture medium stimulates root formation. Sebuah rasio yang tinggi auxins untuk sitokinin dalam media kultur jaringan-merangsang pembentukan akar. A low ratio promotes shoot formation. Sebuah rasio yang rendah mendorong pembentukan tunas. Cytokinins are also used to promote lateral bud growth in flowering plants. Sitokinin juga digunakan untuk mendorong pertumbuhan tunas lateral pada tanaman berbunga.

Abscisic Acid Absisik Asam

Abscisic acid, or ABA, generally inhibits other hormones, such as the auxin IAA. Absisik asam, atau ABA, umumnya menghambat hormon lainnya, seperti auksin IAA. It was originally thought to promote abscission, hence its name. Itu awalnya diperkirakan meningkatkan amputasi, maka namanya. Botanists now know that ethylene in the main abscission hormone. Botanis sekarang tahu bahwa etilena dalam hormon amputasi utama. ABA helps to bring about dormancy in a plant’s buds and maintains dormancy in its seeds. ABA membantu untuk mewujudkan dormansi dalam tunas tanaman dan mempertahankan dormansi dalam bijinya. ABA causes the closure of a plant’s stomata in response to drought. ABA menyebabkan penutupan stomata tanaman sebagai respons terhadap kekeringan. Water stressed leaves produce large amounts of ABA, which triggers potassium ions to be transported out of the guard cells. Air menekankan daun menghasilkan sejumlah besar ABA, yang memicu ion kalium akan diangkut keluar dari sel penjaga. This causes stomata to close, and water is held in the leaf. Hal ini menyebabkan stomata menutup, dan air yang diadakan di daun. It is too costly to synthesize ABA for commercial agriculture use. Terlalu mahal untuk mensintesis ABA untuk penggunaan pertanian komersial.

Other Growth Regulators Pertumbuhan Lainnya Regulator

Many growth regulators are widely used on ornamental plants. ZPT Banyak banyak digunakan pada tanaman hias. These substances do not fit into any of the five classes of hormones. Zat-zat ini tidak cocok dengan salah satu dari lima kelas hormon. For example, utility companies all over the country often apply growth retardants, chemicals that prevent plant growth, to trees in order to prevent them from interfering with overhead utility lines. Sebagai contoh, utilitas perusahaan di seluruh negara sering berlaku penghambat pertumbuhan, bahan kimia yang mencegah pertumbuhan tanaman, pohon-pohon dalam rangka untuk mencegah mereka dari mengganggu saluran utilitas overhead. If is less expensive to apply these chemicals than to prune the trees, not to mention safer for the utility workers. Jika lebih murah untuk menerapkan bahan kimia daripada untuk memangkas pohon-pohon, belum lagi aman bagi para pekerja utilitas. Also, azalea growers sometimes apply a chemical to the terminal buds rather than hand-pruning them. Selain itu, petani kadang-kadang berlaku azalea kimia ke tunas terminal daripada tangan-pemangkasan mereka. Scientists are still searching for a hormone to slow the growth of lawn grass so that it doesn’t have to be mowed so often. Para ilmuwan masih mencari hormon untuk memperlambat pertumbuhan rumput rumput sehingga tidak harus dipangkas begitu sering.

Plant movements Tanaman gerakan

Plants appear immobile because they are usually rooted in one place. Tanaman muncul bergerak karena mereka biasanya berakar pada satu tempat. However, time lapse photography reveals that parts of plants frequently move. Namun, waktu selang fotografi mengungkapkan bahwa bagian-bagian tanaman yang sering bergerak. Most plants move too slowly for the passerby to notice. Kebanyakan tanaman bergerak terlalu lambat bagi orang yang lewat untuk pemberitahuan. Plants move in response to several environmental stimuli such as: light, gravity and mechanical disturbances. Tanaman bergerak dalam menanggapi beberapa rangsangan lingkungan seperti: cahaya, gravitasi dan gangguan mekanis. These movements fall into two groups: tropisms and nastic movements. Gerakan-gerakan ini jatuh ke dalam dua kelompok: tropisms dan gerakan nastic.

Tropisms Tropisms

A tropism is a plant movement that is determined by the direction of an environmental stimulus. tropisme adalah gerakan tanaman yang ditentukan oleh arah stimulus lingkungan. Movement toward an environmental stimulus is called a positive tropism, and movement away from a stimulus is called a negative tropism. Gerakan menuju sebuah stimulus lingkungan disebut tropisme positif, dan gerakan jauh dari rangsangan disebut tropisme negatif. Each kind of tropism is named for its stimulus. Setiap jenis tropisme adalah nama untuk stimulus. For example, a plant movement in response to light coming from one particular direction is called a phototropism. Sebagai contoh, sebuah gerakan tanaman sebagai respon terhadap cahaya datang dari satu arah tertentu disebut sebuah Phototropism Fototropisme. The shoot tips of a plant that grow toward the light source are positively phototropic. tips menembak dari beberapa tanaman yang tumbuh ke arah sumber cahaya yang positif phototropic.

Phototropism Phototropism Fototropisme

Phototropism, as mentioned, is illustrated by the movement of sprouts in relation to light source direction. Phototropism Fototropisme, sebagaimana disebutkan, diilustrasikan oleh pergerakan kecambah dalam kaitannya dengan arah sumber cahaya. Light causes the hormone auxin to move tot he shaded side of the shoot. Cahaya menyebabkan hormon auksin untuk bergerak tot dia berbayang sisi menembak. The auxin causes the cells on the shaded side to elongate more than the cells on the illuminated side. auksin tersebut menyebabkan sel-sel di sisi teduh untuk memanjang lebih dari sel-sel di sisi diterangi. As a result, the shoot bends toward the light and exhibits positive phototropism. Akibatnya, menembak tikungan ke arah cahaya dan Phototropism Fototropisme pameran positif. In some plant stems, phototropism is not caused by auxin presence or movement. Di pabrik beberapa batang, Phototropism Fototropisme tidak disebabkan oleh kehadiran auksin atau gerakan. In these instances, light causes the production of a growth inhibitor on the illuminated side of the shoot. Dalam hal ini, cahaya menyebabkan produksi inhibitor pertumbuhan di sisi diterangi menembak. Negative phototropism is sometimes seen in vines that climb on flat walls where coiling tendrils have nothing to coil around. Phototropism Fototropisme negatif kadang-kadang terlihat pada tanaman merambat yang memanjat di dinding datar dimana sulur melingkar tidak ada melilit. These vines have stem tips that grow away from the light, or better put, toward the wall. Batang tanaman merambat ini memiliki tips yang tumbuh jauh dari cahaya, atau lebih baik menaruh, ke arah dinding. This brings adventitious roots or adhesive discs in contact with the wall on which they can cling and climb. Hal ini membawa akar adventif atau cakram perekat dalam kontak dengan dinding di mana mereka dapat melekat dan memanjat.

Solar tracking is the motion of leaves or flowers as the follow the suns’ movement across the sky. pelacakan Solar adalah gerak daun atau bunga sebagai mengikuti pergerakan matahari ‘di langit. By continuously facing toward a light source, moving or not, the plant maximizes the light available for photosynthesis. Dengan terus menghadap ke arah sumber cahaya, bergerak atau tidak, tanaman memaksimalkan cahaya yang tersedia untuk fotosintesis.

Thigmotropism Thigmotropism

Thigmotropism is a plant growth response to touching a solid object. Thigmotropism adalah pertumbuhan tanaman menanggapi menyentuh benda padat. Tendrils and stems of vines, such as morning glories, coil when they touch an object. Sulur dan batang tanaman merambat, seperti kemuliaan pagi, koil ketika mereka menyentuh objek. Thigmotropism allows some vines to climb other plants or objects, thus increasing its chance of intercepting light for photosynthesis. Thigmotropism memungkinkan beberapa tanaman merambat memanjat tumbuhan lain atau objek, sehingga meningkatkan kesempatan atas mencegat cahaya untuk fotosintesis. It is thought that an auxin and ethylene are involved in this response. Diperkirakan bahwa auksin dan etilen yang terlibat dalam respon ini.

Gravitropism Gravitropism

Gravitropism is a plant growth response to gravity. Gravitropism adalah pertumbuhan tanaman respon terhadap gravitasi. A root usually grows downward and a stem usually grows upward; that is, roots are positively gravitropic and stems are negatively gravitropic. biasanya tumbuh akar dan batang bawah biasanya tumbuh ke atas, yaitu akar yang positif gravitropic dan batang negatif gravitropic. Like phototropism, gravitropism appears to be regulated by auxins. Seperti Phototropism Fototropisme, gravitropism tampaknya diatur oleh auxins. One hypothesis proposes that when a seedling is placed horizontally, auxins accumulate along the lower sides of the root and the stem. Satu hipotesis mengusulkan bahwa ketika bibit ditempatkan horizontal, auxins menumpuk sepanjang sisi bawah dari akar dan batang. This concentration of auxins stimulates cell elongation along the lower side of the stem, and the stem grows upward. Konsentrasi auxins menstimulasi perpanjangan sel di sepanjang sisi bawah batang, dan batang tumbuh ke atas. A similar concentration of auxins inhibits cell elongation in the lower side of the root, and thus the root grows downward. Konsentrasi sama auxins menghambat pemanjangan sel di sisi bawah akar, dan dengan demikian akar tumbuh ke bawah.

Chemotropism Chemotropism

Chemotropism is a plant growth response to a chemical. Chemotropism adalah pertumbuhan tanaman respon terhadap kimia. After a flower is pollinated, a pollen tube grows down through the stigma and style and enters the ovule through the micropyle. Setelah bunga diserbuki, tabung serbuk sari tumbuh turun melalui stigma dan gaya dan masuk bakal biji melalui mikropil. The growth of the pollen tube in response to chemicals produced by the ovule is an excellent example of chemotropism. Pertumbuhan tabung serbuk sari sebagai respon terhadap bahan kimia yang diproduksi oleh bakal biji adalah contoh yang sangat baik chemotropism.

Nastic Movements Nastic Mutasi

Plant movements that occur in response to environmental stimuli, but that are independent of the direction of the stimuli are called nastic movements. Tanaman gerakan yang terjadi dalam menanggapi rangsangan lingkungan, tapi yang independen terhadap arah rangsangan disebut gerakan nastic. These movements are regulated by changes in water pressure in certain plant cells. Gerakan-gerakan ini diatur oleh perubahan tekanan air dalam sel tumbuhan tertentu.

Thigmonastic Movements Thigmonastic Mutasi

Thigmonastic movements are a type of nastic movements that occur in response to touching or shaking a plant. gerakan Thigmonastic adalah jenis gerakan nastic yang terjadi dalam menanggapi menyentuh atau gemetar tanaman. Many thigmonasties involve rapid plant movements, such as the closing of the leaf trap of a Venus flytrap plant or the folding of a plant’s leaves in response to being touched. Banyak thigmonasties melibatkan gerakan tanaman yang cepat, seperti penutupan perangkap daun tanaman penangkap lalat Venus atau lipat daun tanaman dalam menanggapi disentuh. Some leaves of sensitive plants will fold within a few seconds after being touched. Beberapa daun tanaman sensitif akan lipat dalam beberapa detik setelah disentuh. This movement is caused by the rapid loss of turgor pressure (water pressure) in certain cells, a process similar to that which occurs in guard cells in order to close stomata. Gerakan ini disebabkan oleh hilangnya cepat tekanan turgor (tekanan air) dalam sel tertentu, proses yang sama dengan yang terjadi pada sel penjaga dalam rangka untuk menutup stomata. Physical stimulation of the plant leaf causes potassium ions to be pumped out of the cells at the base of the leaflets and petioles. stimulasi fisik dari daun tanaman menyebabkan ion kalium harus dipompa keluar dari sel di dasar selebaran dan petioles. Water then moves out of the cells by osmosis. Air kemudian bergerak keluar dari sel melalui osmosis. As the cells shrink, the plant leaves move. Sebagai sel menyusut, tanaman daun bergerak. It is believed that the folding of a plant’s leaves in response to touch is to discourage insect feeding. Hal ini diyakini bahwa melipat daun tanaman di respon untuk menyentuh adalah untuk mencegah makan serangga.

In addition, thigmonastic movements help prevent water loss in plants. Selain itu, gerakan thigmonastic membantu mencegah hilangnya air pada tumbuhan. When the wind blows across a plant, the rate of transpiration is increased. Ketika angin bertiup di tanaman, laju transpirasi meningkat. If the leaves of a plant fold in response to the “touch” of the wind, water loss is reduced. Jika daun tanaman kali lipat dalam menanggapi “sentuhan” dari angin, kehilangan air berkurang.

Nyctinastic Movements Nyctinastic Mutasi

Nyctinastic movements are plant movements in response to the daily cycle of light and dark. Nyctinastic gerakan gerakan-gerakan tanaman dalam menanggapi siklus harian terang dan gelap. Nyctinastic movements involve the same type of osmotic mechanism as thigmonastic movements, but the changes in turgor pressure are more gradual. gerakan Nyctinastic melibatkan jenis yang sama mekanisme osmotik sebagai gerakan thigmonastic, tetapi perubahan tekanan turgor lebih bertahap. Nyctinastic movements occur in many plants. gerakan Nyctinastic terjadi di banyak tanaman. Examples of plants that demonstrate these movements include honeylocust trees, silk trees and bean plants. Contoh tanaman yang menunjukkan gerakan-gerakan ini termasuk pohon honeylocust, pohon sutra dan tanaman kacang. The prayer plant gets its name from the fact that its leaf blades are vertical at night, resembling praying hands. Pabrik doa mendapatkan namanya dari fakta bahwa pisau daun perusahaan vertikal di malam hari, menyerupai tangan berdoa. During the day, however, the leaf blades are positioned horizontally. Pada siang hari, namun, pisau daun diposisikan horizontal. Carolus Linnaeus planted a “flower clock” made of different species of plants with nyctinastic movements. Carolus Linnaeus menanam “jam bunga” yang terbuat dari berbagai jenis tanaman dengan gerakan nyctinastic. The movements of each plant species occurred at a specific time of day when the light was right for the plant. Mutasi setiap spesies tanaman terjadi pada waktu tertentu dalam hari ketika cahaya yang tepat untuk tanaman.

Seasonal Responses Tanggapan Musiman

In nontropical areas, plant responses are strongly influenced by seasonal changes. Di daerah nontropical, respon tanaman sangat dipengaruhi oleh perubahan musiman. For example, many trees shed their leaves in the fall, and most plants flower only at certain times of the year. Sebagai contoh, banyak pohon merontokkan daunnya di musim gugur, dan bunga tanaman paling hanya pada waktu-waktu tertentu tahun. Plants are able to sense seasonal changes. Tanaman dapat merasakan perubahan musim. Although temperature changes are involved in some case and to certain degrees, plants mark the seasons primarily by sensing changes in night length. Meskipun perubahan suhu yang terlibat dalam beberapa kasus dan untuk derajat tertentu, tanaman tandai musim terutama dengan merasakan perubahan panjang malam.

Photoperiodism Photoperiodism

A plant’s response to changes in the length of days and nights is called photoperiodism. Tanggapan tanaman perubahan panjang hari dan malam disebut Photoperiodism. Photoperiodism affects many plant processes, including the formation of storage organs and bud dormancy. Photoperiodism mempengaruhi proses banyak tanaman, termasuk pembentukan organ penyimpanan dan dormansi kuncup. However, the most studied photoperiodic process is flowering. Namun, proses photoperiodic paling banyak dipelajari adalah berbunga. Some plants require a particular night length to flower. Beberapa tanaman memerlukan panjang malam tertentu ke bunga. In other species, a particular night length merely makes a plant flower sooner than it otherwise would. Dalam spesies lain, panjang malam tertentu hanya membuat bunga tanaman cepat daripada seharusnya.

Critical Night Length Malam Panjang Kritis

It has been discovered that the important factor in flowering is the amount of darkness, or night length, that a plant receives. Telah ditemukan bahwa faktor penting dalam berbunga adalah jumlah kegelapan, atau panjang malam, bahwa tanaman menerima. Each plant species has its own specific requirements for darkness, called the critical night length. Setiap jenis tanaman memiliki persyaratan sendiri khusus untuk kegelapan, yang disebut panjang malam kritis. Although it is now understood that night length, and not day length, regulates flowering, the terms short-day plant and long-day plant are still used. Walaupun sekarang dipahami bahwa malam panjang, dan tidak panjang hari, mengatur berbunga, tanaman pendek istilah-hari dan tanaman hari panjang masih digunakan. A short-day plant flowers when the days are short and the nights are long. Sebuah bunga tanaman pendek-hari ketika hari-hari yang pendek dan malam yang panjang. Conversely, a long-day plant flowers when the days are long and the nights are short compared to the requirements of another plant. Sebaliknya, bunga tanaman hari panjang ketika hari-hari yang panjang dan malam-malam pendek dibandingkan dengan kebutuhan tanaman lain.

Responding to Day Length and Night Length Menanggapi Panjang Siang dan Panjang Malam

Plants can be divided into three groups, depending on their response tot he photoperiod, which again acts a season indicator. Tanaman dapat dibagi menjadi tiga kelompok, tergantung pada respon tot mereka ia penyinaran, yang lagi-lagi bertindak indikator musim.

One group, called day-neutral plants (DNPs) are not affected by day length. Satu kelompok, yang disebut tanaman hari netral (DNPs) tidak dipengaruhi oleh panjang hari. Examples of DNPs for flowering include tomatoes, dandelions, roses, corn, cotton and beans. Contoh DNPs untuk berbunga meliputi tomat, dandelion, mawar, jagung, kapas dan kacang.

Short-day plants (SDPs) flower in the spring of fall, when the day length is short. Tanaman hari pendek (SDP) bunga pada musim semi jatuh, ketika panjang hari pendek. For example ragweed flowers when the days are shorter than 14 hours and poinsettias flower when the days are shorter than 12 hours. Misalnya ragweed bunga saat hari-hari lebih pendek dari 14 jam dan poinsettia bunga saat hari-hari lebih pendek dari 12 jam. Chrysanthemums, goldenrods, and soybeans are SDPs for flowering. Krisan, goldenrods, dan kedelai adalah SDP untuk berbunga.

Long-day plants (LDPs) flower when the days are long, usually in summer. Long-hari tanaman (LDPs) bunga saat hari-hari yang panjang, biasanya di musim panas. For example, wheat flowers only when the days are longer than 10 hours. Misalnya, bunga gandum hanya ketika hari lebih panjang dari 10 jam. Radishes, asters, petunias, and beets are LDPs for flowering. Lobak, aster, petunia, dan bit yang LDPs untuk berbunga.

Phytochrome Regulation in Plants Peraturan fitokrom Tanaman

Plants monitor changes in day length with a bluish, light-sensitive protein pigment called phytochrome. Tanaman memantau perubahan panjang hari dengan pigmen, protein kebiruan yang sensitif terhadap cahaya disebut fitokrom. Phytochrome exists in two forms, based on the wavelength of the light that it absorbs. Fitokrom ada dalam dua bentuk, berdasarkan panjang gelombang cahaya yang menyerap. It is generally produced in meristematic tissues in very minute amounts. Hal ini umumnya diproduksi dalam jaringan meristematik dalam jumlah yang sangat menit. The two stable forms can be converted to each other by absorbing light. Dua bentuk yang stabil dapat dikonversi satu sama lain dengan menyerap cahaya. P red (P r ) which absorbs red light and P far-red (P fr ) which absorbs far-red light. P merah (P r) yang menyerap cahaya merah dan P jauh-merah (fr P) yang menyerap cahaya merah jauh. In the daylight more P r is converted to P fr (the active form) than vice versa. Di siang hari semakin P r dikonversi menjadi fr P (bentuk aktif) daripada sebaliknya. P fr will convert back to P r over several hours in the dark where it would be stable indefinitely. fr P akan mengubah kembali ke r P selama beberapa jam dalam gelap di mana ia akan stabil tanpa batas. The conversion in light is almost instantaneous. Konversi dalam terang hampir seketika. The phytochrome mechanism is what transforms the crook in the hypocotyls of the emerging seedling into a straight stalk. Mekanisme fitokrom adalah apa yang mengubah bajingan di hipokotil bibit muncul menjadi tangkai lurus. Stem elongation appears to be inhibited by P fr. However, if light levels are low, the shaded stems of a tree for example, more far-red light will reach them and cause the conversion to P r which lowers inhibition and allows the stems to grow longer and out from under the shade. perpanjangan Stem tampaknya dihambat oleh P fr. Namun, jika tingkat cahaya rendah, teduh batang pohon misalnya, jauh lebih banyak cahaya merah akan mencapai mereka dan menyebabkan konversi untuk P r yang menurunkan hambatan dan memungkinkan batang untuk tumbuh lebih panjang dan keluar dari bawah tempat teduh.

The interconversion abilities of phytochrome: Kemampuan interkonversi fitokrom:

Vernalization Vernalisasi

Vernalization is the low-temperature stimulation of flowering. Vernalisasi adalah rangsangan suhu rendah berbunga. Vernalization is important for fall-sown grain crops, such as winter wheat, barley and rye. Vernalisasi penting bagi tanaman biji-bijian jatuh-ditaburkan, seperti musim dingin, jelai gandum dan gandum hitam. For example, wheat seeds are sown in the fall and survive the winter as small seedlings. Sebagai contoh, benih gandum ditabur pada musim gugur dan musim dingin bertahan sebagai bibit kecil. Exposure to cold weather causes the plants to flower in the early spring, and an early crop is produced. Paparan cuaca dingin menyebabkan tanaman berbunga di awal musim semi, dan tanaman awal diproduksi. If the same wheat is sown in the spring, it will take about two months longer to produce a crop. Jika gandum sama ditaburkan di musim semi, akan memakan waktu sekitar dua bulan lebih lama untuk menghasilkan sebuah tanaman. Thus, cold temperatures are not absolutely required for most crops, but they do expedite flowering. Dengan demikian, suhu dingin tidak mutlak diperlukan untuk tanaman kebanyakan, tetapi mereka mempercepat berbunga. Farmers often use vernalization to grow and harvest their crops before a summer drought sets in and stunts growth. Petani sering menggunakan vernalisasi untuk tumbuh dan panen tanaman mereka sebelum musim panas kekeringan set dalam dan pertumbuhan stunts.

A biennial plant is a plant that lives for two years, usually producing flowers and seeds during the second year. Sebuah pabrik dua tahunan merupakan tanaman yang hidup selama dua tahun, biasanya memproduksi bunga dan benih selama tahun kedua. Biennial plants, such as carrots, beets, celery and foxglove, survive their first winter as short plants. tumbuhan dua tahunan, seperti wortel, seledri bit, dan foxglove, bertahan musim dingin pertama mereka sebagai tanaman pendek. In the spring their flowering stem elongates rapidly, a process called bolting. Pada musim semi batang berbunga memanjang dengan cepat, suatu proses yang disebut perbautan. Most biennials must receive cold weather to vernalize before they flower during the second year. Kebanyakan biennale harus menerima cuaca dingin untuk vernalize sebelum mereka bunga selama tahun kedua. They will then die after flowering. Mereka kemudian akan mati setelah berbunga. Treating a biennial with gibberellin is sometimes a substitute for cold temperatures in vernalization, and will stimulate the plant to grow. Merawat dua tahunan dengan giberelin kadang-kadang pengganti untuk suhu dingin di vernalisasi, dan akan merangsang tanaman untuk tumbuh.

Fall colors Fall warna

Some tree leaves are noted for their spectacular fall color display. Beberapa daun pohon terkenal akan menampilkan warna spektakuler mereka jatuh. The changing fall colors are caused primarily by a photoperiodic response but also by a temperature response. Warna-warna berubah jatuh terutama disebabkan oleh respon photoperiodic tetapi juga oleh respon suhu. As nights become longer in the fall, leaves stop producing chlorophyll. Seperti malam menjadi lebih panjang di musim gugur, daun berhenti memproduksi klorofil. As the chlorophyll chemically degrades, it is not replaced. Sebagai klorofil kimia merendahkan, tidak diganti. Other leaf pigments, the carotenoids, become visible and the green/orange splotches become more visible as the green chlorophyll turns orange. pigmen daun lainnya, karotenoid, menjadi terlihat dan hijau / oranye bercak-bercak menjadi lebih terlihat sebagai klorofil hijau menyala oranye. Carotenoids include the orange carotenes and the yellow xanthophylls. Karotenoid termasuk karotin oranye dan xanthopil kuning. Anthocyanins produce the deep red and purplish-red colors in the fall display. Antosianin menghasilkan warna merah dan keunguan-merah tua di layar jatuh.

SISTEM EKSKRESI PADA INVERTEBRATA



Sistem ekskresi invertebrata berbeda dengan sistem ekskresi pada vertebrata. Invertebrata belum memiliki ginjal yang berstruktur sempurna seperti pada vertebrata. Pada umumnya, invertebrata memiliki sistem ekskresi yang sangat sederhana, dan sistem ini berbeda antara invertebrata satu dengan invertebrata lainnya.

Alat ekskresinya ada yang berupa saluran Malphigi, nefridium, dan sel api. Nefridium adalah tipe yang umum dari struktur ekskresi khusus pada invertebrata. Berikut ini akan dibahas sistem ekskresi pada cacing pipih (Planaria), cacing gilig (Annellida), dan belalang.

1. Sistem Ekskresi pada Cacing Pipih

Cacing pipih mempunyai organ nefridium yang disebut sebagai protonefridium. Protonefridium tersusun dari tabung dengan ujung membesar mengandung silia. Di dalam protonefridium terdapat sel api yang dilengkapi dengan silia.

Tiap sel api mempunyai beberapa flagela yang gerakannya seperti gerakan api lilin. Air dan beberapa zat sisa ditarik ke dalam sel api. Gerakan flagela juga berfungsi mengatur arus dan menggerakan air ke sel api pada sepanjang saluran ekskresi. Pada tempat tertentu, saluran bercabang menjadi pembuluh ekskresi yang terbuka sebagai lubang di permukaan tubuh (nefridiofora). Air dikeluarkan lewat lubang nefridiofora ini.

.Gbr. Struktur alat ekskresi pada casing pipih

Sebagian besar sisa nitrogen tidak masuk dalam saluran ekskresi. Sisa nitrogen lewat dari sel ke sistem pencernaan dan diekskresikan lewat mulut. Beberapa zat sisa berdifusi secara langsung dari sel ke air.

2. Sistem Ekskresi pada Anelida dan Molluska

Anelida dan molluska mempunyai organ nefridium yang disebut metanefridium. Pada cacing tanah yang merupakan anggota anelida, setiap segmen dalam tubuhnya mengandung sepasang metanefridium, kecuali pada tiga segmen pertama dan terakhir.

Metanefridium memiliki dua lubang. Lubang yang pertama berupa corong, disebut nefrostom (di bagian anterior) dan terletak pada segmen yang lain. Nefrostom bersilia dan bermuara di rongga tubuh (pseudoselom). Rongga tubuh ini berfungsi sebagai sistem pencernaan. Corong (nefrostom) akan berlanjut pada saluran yang berliku-liku pada segmen berikutnya.

Gbr. Sistem ekskresi pada anelida

Bagian akhir dari saluran yang berliku-liku ini akan membesar seperti gelembung. Kemudian gelembung ini akan bermuara ke bagian luar tubuh melalui pori yang merupakan lubang (corong) yang kedua, disebut nefridiofor. Cairan tubuh ditarik ke corong nefrostom masuk ke nefridium oleh gerakan silia dan otot. Saat cairan tubuh mengalir lewat celah panjang nefridium, bahan-bahan yang berguna seperti air, molekul makanan, dan ion akan diambil oleh sel-sel tertentu dari tabung. Bahan-bahan ini lalu menembus sekitar kapiler dan disirkulasikan lagi. Sampah nitrogen dan sedikit air tersisa di nefridium dan kadang diekskresikan keluar.

Metanefridium berlaku seperti penyaring yang menggerakkan sampah dan mengembalikan substansi yang berguna ke sistem sirkulasi.

Cairan dalam rongga tubuh cacing tanah mengandung substansi dan zat sisa. Zat sisa ada dua bentuk, yaitu amonia dan zat lain yang kurang toksik, yaitu ureum. Oleh karena cacing tanah hidup di dalam tanah dalam lingkungan yang lembab, anelida mendifusikan sisa amonianya di dalam tanah tetapi ureum diekskresikan lewat sistem ekskresi.

3. Alat Ekskresi pada Belalang

Alat ekskresi pada belalang adalah pembuluh Malpighi, yaitu alat pengeluaran yang berfungsi seperti ginjal pada vertebrata. Pembuluh Malphigi berupa kumpulan benang halus yang berwarna putih kekuningan dan pangkalnya melekat pada pangkal dinding usus. Di samping pembuluh Malphigi, serangga juga memiliki sistem trakea untuk mengeluarkan zat sisa hasil oksidasi yang berupa CO2. Sistem trakea ini berfungsi seperti paru-paru pada vertebrata.

Belalang tidak dapat mengekskresikan amonia dan harus memelihara konsentrasi air di dalam tubuhnya. Amonia yang diproduksinya diubah menjadi bahan yang kurang toksik yang disebut asam urat. Asam urat berbentuk kristal yang tidak larut.

Pembuluh Malpighi terletak di antara usus tengah dan usus belakang. Darah mengalir lewat pembuluh Malpighi. Saat cairan bergerak lewat bagian proksimal pembuluh Malpighi, bahan yang mengandung nitrogen diendapkan sebagai asam urat, sedangkan air dan berbagai garam diserap kembali biasanya secara osmosis dan transpor aktif. Asam urat dan sisa air masuk ke usus halus, dan sisa air akan diserap lagi. Kristal asam urat dapat diekskresikan lewat anus bersama dengan feses.

Gbr. Sistem Ekskresi pada belalang

SPERMATOPHYTA (TUMBUHAN BERBIJI)


Spermatophyta (tumbuhan berbiji) memiliki ciri-ciri antara lain: makroskopis dengan ketinggian bervariasi, bentuk tubuhnya bervariasi, cara hidup fotoautotrof, habitatnya kebanyakan di darat tapi ada juga yang mengapung di air (teratai), mempunyai pembuluh floem dan xilem, reproduksi melalui penyerbukan (polinasi) dan pembuahan (fertilisasi). Tumbuhan biji dibedakan menjadi dua golongan yaitu tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae) dan tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae).

Gymnospermae (tumbuhan berbiji terbuka)
Ciri-ciri gymnospermae tidak mempunyai bunga sejati, tidak ada mahkota bunganya. Bakal biji terdapat di luar permukaan dan tidak dilindungi oleh daun buah, merupakan tumbuhan heterospora yaitu menghasilkan dua jenis spora berlainan, megaspora membentuk gamet betina, sedangkan mikrospora menghasilkan serbuk sari, struktus reproduksi terbentuk di dalam strobilus. Dalam reproduksi terjadi pembuahan tunggal.

Gymnospermae dibagi dalam empat kelompok yaitu pinophyta, cycadophyta, ginkgophyta dan gnetophyta. Pinophyta dikenal sebagai konifer, menghasilkan resin/getah, monoesis, daun berbentuk jarum, contohnya Pinus sp. Cycadophyta hidup di daerah tropis dan subtropis, diesis, contohnya Cycas revoluta, Cycas rumphii, Encephalartos transvenosus. Ginkgophyta hanya mempunyai satu spesies di dunia ini yaitu Ginkgo biloba, diesis, biji tidak di dalam rujung benar-benar terbuka ke udara bebas. Gnetophyta berbeda dengan kelompok lainnya karena memiliki pembuluh kayu untuk mengatur air pada bagian xilemnya. Contohnya Gnetum gnemon, Epherda dan Welwitschia. Manfaat gymnospermae yaitu untuk industri kertas dan korek api (Pinus dan Agathis), untuk obat-obatan (Pinus, Ephedra, Juniperus), untuk makanan (Gnetum gnemon), tanaman hias (Thuja, Cupressus, Araucaria).

Angiospermae (tumbuhan berbiji tertutup)
Ciri-ciri Angiospermae memiliki bakal biji atau biji yang tertutup oleh daun buah, mempunyai bunga sejati, umumnya tumbuhan berupa pohon, perdu, semak, liana dan herba. Dalam reproduksi terjadi pembuahan ganda. Angiospermae dibedakan menjadi dua yaitu Monocotyledoneae (berkeping satu) dan Dicotyledoneae (berkeping dua).

Monocotyledoneae
Mempunyai biji berkeping satu, berakar serabut, batangnya dari pangkal sampai ujung hampir sama besarnya. Umumnya tidak bercabang. Akar dan batang tidak berkambium. Contohnya: Oryza sativa (padi), Zea mays (jagung), Musa paradisiaca (pisang), Cocos nucifera (kelapa).

Dicotyledoneae
Mempunyai biji jumlah kepingnya dua, berakar tunggang, batang dari pangkal besar makin ke atas makin kecil. Batang bercabang, akar dan batang berkambium. Contohnya: Casia siamea (johar), Arachis hypogea (kacang tanah), Psidium guajava (jambu biji), Ficus elastica (karet).

INVERTEBRATA


Invertebrata/Avertebrata adalah kelompok hewan yang tidak memiliki tulang belakang dengan anggota Protozoa, Porifera atau hewan berpori, Coelenterata atau hewan berongga, Platyhelminthes/cacing pipih, Nemathelminthes/cacing gilik, Annelida/cacing gelang, Mollusca/hewan lunak, Arthropoda/hewan beruas-ruas, Echinodermata/hewan berkulit duri.

PROTOZOA
Tubuh terdiri satu sel, ukuran 3-1000 mikron, eukariotik, habitat ditempat yang basah, sebagai zooplankton di perairan, protozoa hidup soliter atau berkoloni. Protozoa dibagi menjadi empat kelompok yaitu Rhizopoda/sarcina, Flagellata atau Mastigophora, Ciliata, dan Sporozoa.

Rhizopoda (Sarcina)
Contoh Rhizopoda antara lain Amoeba, Arcella, Foraminifera, Difflugia, Radiolaria. Amoeba mempunyai pseudopodum (kaki semu) sebagai alat gerak, bentuk tidak tetap, membran sel sangat tipis dan bersifat elastis disebut plasmolema, vakuola makanan untuk mencerna makanan, vakuola kontraktil untuk mengeluarkan sisa-sisa metabolisme dan osmoregulasi. Amoeba mengambil makanan dengan fagositosis, reproduksi dengan vegetatif yaitu membelah diri. Habitat amoeba ada dua jenis ektoameba dan entameba. Ektoameba di luar tubuh contohnya Amoeba proteus, entameba di dalam tubuh. Entameba ada tiga yaitu entameba gingivalis di dalam mulut, entameba coli diare di dalam usus besar, entameba histolytica disentri di dalam usus halus.

Arcella kerangka luar tersusun dari zat kitin. Foraminifera terdiri dari silika/zat kapur, fosilnya sebagai petunjuk dalam pencarian sumber minyak bumi, genus yang terkenal yaitu Globigerina. Difflugia kerangka luar mengeluarkan selaput lendir dan menyebabkan adanya butir-butir pasir halus dan benda lain dapat melekat. Radiolaria banyak duri dari zat kitin dan stronsium sulfat yang akan mengendap di dalam perairan membentuk endapan disebut lumpur radiolaria, sebagai bahan penggosok, bahan dinamit/peledak. Contoh Acanthometron dan Collospaera.

Flagellata (Matigophora)
Habitat di air tawar, air laut dan ada juga yang parasit di dalam tubuh manusia (hewan). Flagellata dibagi menjadi dua yaitu Fitoflagellata dan Zooflagellata. Fitoflagellata dapat melakukan fotosintesis dibagi menjadi tiga berdasarkan sifatnya yaitu halofilik mengubah zat anorganik menjadi organik (seperti tumbuhan), holozoid mampu memakan zat organik sebagai makanannya (seperti hewan), saprofitik memanfaatkan organisme yang telah mati. Fitoflagellata dibagi menjadi tiga kelompok yaitu Euglenoida, Dinoflagellata, dan Volvocida. Euglenoida tidak memiliki kloroplas (astasia), lapisan luar berupa pelikel tersusun oleh sitoplasma padat mengandung protein, contohnya Euglena viridis gerakannya disebut euglenoid. Dinoflagellata contohnya Noctiluca miliaris akan memancarkan sinar/cahaya bila terkena rangsang mekanik ketika air kena karangn, memiliki 2 flagel yang tidak sama panjangnya. Volvocida contohnya Volvox globator setiap satu sel memiliki 2 flagel, ada yang bersifat soliter dan ada yang berkoloni.

Zooflgellata flagella yang tidak berkloropas dan meyerupai hewan, hidupnya parasit. Contohnya Trypanosoma dan Leishmania. Trypanosoma bentuk tubuh pipih panjang seperti daun, hidupnya melekat disel lambung (mengisap darah manusia, hidup di dalam darah merah/darah putih), memiliki dua bentuk yaitu berflagel pada fase ekstraseluler, dan tidak berflagel pada fase intraseluler. Jenis-jenis Trypanosoma yaitu T. lewis pada tukus hospes perantaranya kutu tikus, T. evansi penyakit sura/malas pada ternak hospes perantara lalat tabanus, T. brucei penyakit nagono pada ternak hospes perantaranya lalat tse-tse, T. gabiensi dan T. rhodosiensis penyakit tidur pada manusia perantaranya lalat tse-tse, T. cruzi penyakit cagas (anemia pada anak-anak). Leishmania penyakit pada sel endotelium, pembuluh darah. Endotelium sel epitelium yang melapisi jantung pembuluh darah dan pembuluh limfa. Jenis-jenis Leishmania ada tiga yaitu L. donovani penyakit kalaazar perantaranya lalat pitak (tabanus) ditandai dengan demam dan anemia di Mesir dan India, L. tropica penyakit kulit di Asia dan Amerika selatan, L. brasilliensis penyakit kulit di Meksiko dan Amerika Tengah. Infeksi karena Trypanosoma disebut Trypanosomiasis dan karena Leishmania disebut Leishmaniasis.

Ciliata (Infusoria)
Ciliata berukuran mikroskopis 3 mm tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, ditandai dengan adanya organ silia (bulu getar untuk mencari makan). Berbentu asimetris, lepisan luar berupa pelikel, mempunyai dua tipe inti sel yaitu makronukleus dan mikronukleus, vakuola kontraktil menjaga keseimbangan air di dalam tubuhnya, memiliki mulut/sitosom. Ada 2 macam mulut pada ciliata berupa mulut membran berombak/membran yang bergerak merupakan silia yang menyatu dalam barisan panjang dan mulut membran yang berupa barisan pendek dari silia yang bersatu membentuk piringan. Fungsi silia pada mulut menghasilkan aliran makanan dan mendorong partikel makanan menuju sitofaring. Contohnya Paramecium, Stentor, Didinium, Vorticella, Stylonichia dan Balantidium coli.

Paramecium tubuhnya dilapisi pelikel, reproduksi vegetatif dengan membelah diri jika tidak mampu dengan konjugasi dan generatif. Stentor bentuk seperti terompet dan menetap. Didinium predator ekosistem perairan pemangsa Paramecium. Vorticella bentuk seperti lonceng bertangkai panjang dengan bentuk lurus atau spiral dilengkapi dengan silia. Stylonichia seperti siput silianya berkelompok banyak ditemukan pada permukaan daun yang terendam air. Balantidium coli hidup di kolon manusia dan dapat menimbulkan balantidiosis (gangguan pada perut).

Sporozoa
Reproduksi secara vegetatif terjadi pada tubuh si penderita malaria yang disebut skizogoni, sporogoni terjadi pada tubuh nyamuk. Hidupnya parasit pada sel darah, tidak memiliki alat gerak (mengikuti aliran darah). Contohnya Plasmodium. Jenis-jenis Plasmodium: P. falciparum penyakit malaria tropika, P. Vivax penyakit malaria tertina, P. malariae penyakit malaria kuartana, P. ovale penyakit limpa.

Siklus hidup Plasmodium sebagai berikut :
Bila nyamuk Anopheles menghisap darah mengeluarkan zat anti pembekuan darah untuk menjaga agar darah korban tidak membeku (zat antikoagulan). Mengeluarkan sporozoit dari mulut nyamuk dan masuk kedalam luka gigitan ditubuh korban. Sporozoit masuk di dalam sel-sel parenkima hati fasenya eksoeritrositair (selama 3 hari). Sporozoit keluar menyerang sel-sel darah dan memasukinya. Tropozoit (di dalam sel-sel darah merah) fasenya erisoeritair. Tropozoit membelah menjadi merozoid disebut skizogoni. Merozoid pecah membentuk gametosit. Gametosit menjadi gamet jantan dan betina disebut gamogoni, terjadi fertilisasi menjadi zigot, zigot menjadi ookinet (gelembung yang berbentuk seperti cacing). Ookinet menerobos dinding usus dan perut nyamuk, ookinet menjadi oosista. Oosista menjadi sporozoit yang secara sporogoni dan sporozoid menjadi kelenjar liur nyamuk untuk ditularkan lagi.

TANAMAN OBAT


Daun Jintan

(Plectranthus amboinicus (L.) Spreng.)

Sinonim :
Coleus amboinicus Lour. Coleus aromatica Benth.
Familia :
Lamiaceae (Labiatae).
Uraian :
Tanaman semak, menjalar. Batang berkayu, lunak, beruas-ruas. Ruas yang menempel di tanah akan tumbuh akar, batang muda berwarna hijau pucat. Daun tunggal, mudah patah, bentuk bulat telur, tebal, tepi beringgit, berabut, panjang 6-7 cm, lebar 5-6 cm, bertulang menyirip, warna hijau muda. Bunga majemuk, berbentuk tandan, mahkota bentuk mangkok warna ungu. Bagian yang Digunakan Seluruh bagian tumbuhan.
Nama Lokal :
NAMA SIMPLISIA Plectranthi amboinici Herba; Herba Daun Jintan.
Penyakit Yang Dapat Diobati :
SIFAT KHAS Pedas, menetralkan, dan membersihkan darah. SIFAT KHAS Pedas, menetralkan, dan membersihkan darah. PENELITIAN Ifiwati Wibowo,1992. Fakultas Farmasi, WIDMAN. Pembimbing: Dra. Dien Ariani L. dan dr. Irwan S. Telah melakukan penelitian daya antibakteri ekstrak Daun Jintan terhadap kuman gram negatif dari penderita infeksi saluran kemih. Dari hasil penelitian tersebut, ternyata ekstrak Daun Jintan dapat menghambat pertumbuhan bakteri E. coli mulai konsentrasi 1,2 gr/ml dan bakteri P. mirabilis mulai konsentrasi 1,0 g/ml. 

Pemanfaatan :

KEGUNAAN

-Asma.

-Batuk.

-Bayi muntah.

-Bronkhitis.

-Demam.

-Mulas.

-Pencernaan tidak baik.

-Radang saluran kandung kemih.

-Sariawan perut.

-Sakit kepala.

RAMUAN DAN TAKARAN

Batuk

Ramuan:

Daun Jintan segar  7 helai

Air  100 ml

Cara pembuatan:

Dibuat infus atau diseduh.

Cara pemakaian:

Diminum 2 kali sehari, pagi dan sore, tiap kali minum 100 ml.

Lama pengobatan:

Diulang selama 14 hari.

Sariawan Perut (Panas Dalam)

Ramuan:

Daun Jintan segar  1 gram

Daun Saga segar  3 gram

Herba Pegagan segar  3 gram

Daun Sirih segar  3 helai

Kulit Kayu Turi  4 gram

Air  110 ml

Cara pembuatan:

Dibuat infus atau dipipis.

Cara pemakaian:

Diminum 1 kali sehari 100 ml (infus). Apabila dibuat pipisan diminum 1 kali sehari 1/4 cangkir.

Lama pengobatan:

Diulang selama 7 hari.

Bayi Muntah

Kalau bayi sering muntah dan masih menyusui pada ibunya. Muntah tersebut disebabkan karena ibunya makan makanan yang amis seperti ikan, udang, dll.

Ramuan:

Daun Jintan segar  2 helai

Cara pemakaian:

Untuk mengobati hal tersebut, ibunya sebaiknya mengunyah Daun Jintan dan cairannya ditelan.

Lama pengobatan:

3 kali sehari, pagi, siang, dan sore hari, tiap kali 2 helai Daun jintan yang masih segar.

Sakit Kepala

Ramuan:

Daun Jintan segar  2 helai

Daun Legundi segar  2 helai

Rimpang Jahe merah  1 rimpang

Rimpang Bangle  secukupnya

Air  secukupnya

Cara pembuatan:

Dipipis hingga berbentuk pasta.

Cara pemakaian:

Dioleskan ke pelipis dan di belakang telinga. Bila ada, dapat ditambahkan minyak kelonyo.

Komposisi :
Minyak atsiri, mengandung fenol, dan senyawa kalium.

Cabai Rawit

(Capsicum frutescens L.)

Sinonim :
C. ,fastigiatum BL, C. minimum Roxb.
Familia :
solanaceae.
Uraian :
Tanaman budidaya, kadang-kadang ditanam di pekarangan sebagai tanaman sayur atau tumbuh liar di tegalan dan tanah kosong yang terlantar. Tumbuhan ini berasal dari Amerika tropik, menyukai daerah kering, dan ditemukan pada ketinggian 0,5-1.250 m dpl. Perdu setahun, percabangan banyak, tinggi 50-100 cm. Batangnya berbuku-buku atau bagian atas bersudut. Daun tunggal, bertangkai, letak berselingan. Helaian daun bulat telur, ujung meruncing, pangkal menyempit, tepi rata, pertulangan menyirip, panjang 5-9,5 cm, lebar 1,5-5,5 cm, berwarna hijau. Bunga keluar dari ketiak daun, mahkota bentuk bintang, bunga tunggal atau 2-3 bunga letaknya berdekatan, berwarna putih, putih kehijauan, kadang-kadang ungu. Buahnya buah buni, tegak, kadang-kadang merunduk, berbentuk bulat telur, lurus atau bengkok, ujung meruncing, panjang 1-3 cm, lebar 2,5-12 mm, bertangkai panjang, dan rasanya pedas. Buah muda berwarna hijau tua, putih kehijauan, atau putih, buah yang masa.k berwarna merah terang. Bijinya banyak, bulat pipih, berdiameter 2-2,5 mm, berwarna kuning kotor. Cabai rawit terdiri dari tiga varietas, yaitu cengek leutik yang buahnya kecil, berwarna hijau, dan berdiri tegak pada tangkainya; cengek domba (cengek bodas) yang buahnya lebih besar dari cengek leutik, buah muda berwarna putih, setelah tua menjadi jingga; dan ceplik yang buahnya besar, selagi muda berwarna hijau dan setelah tua menjadi merah. Buahnya digunakan sebagai sayuran, bumbu masak, acar, dan asinan. Daun muda dapat dikukus untuk lalap.Cabal rawit dapat diperbanyak dengan biji.
Nama Lokal :
NAMA DAERAH Sumatera: leudeuaarum, l. pentek (Gayo), situdu langit, lacina sipane (Simelungmz), lada limi (Nias), l. mutia (Melayu). Jawa: cabe rawit, c. cengek (SLCnda), lombok jempling, l. jemprit, l. rawit, l. gambir, l. setan, l. cempling (Jawa), cabhi letek, c. taena manok (Madc,rra). Nusa Tenggara: tabia krinyi (Bali), kurus(Alor). Sulawesi: kaluya kapal (bent.), mareta dodi (Mongond.), malita diti (Gorontalo), m. didi (Buol), lada masiwu (Baree), l. marica, l. capa, laso meyong (Mak.),1. meyong, ladang burica, l. marica (Bug.), rica halus, r. padi (Manado). Maluku: Abrisan kubur (Seram), karatupa batawe (Elpaputi), katupu walata (Waraka), araputa patawe (Atamano), kalapita batawi (Amahai), karatuba manesane (Nuaulu), karatupa. batawi (Sepcc), maricang kekupe (Weda), rica gufu (Ternate). Irian: metrek wakfoh (Sarmi), basen tanah (Barik). NAMA ASING La jiao (C), cayenne peper (B), piment de cayenne (P), piment enrage, guineapfeffer (J), pasites, sili (Tag.), cayenne, chilli (I). NAMA SIMPLISIA Capsici frutescentis Fructus (buah cabe rawit).
Penyakit Yang Dapat Diobati :
Cabai rawit rasanya pedas, sifatnya panas, masuk meridian jantung dan pankreas. Tumbuhan ini berkhasiat tonik, stimulan kuat untuk jantung dan aliran darah, antirematik, menghancurkan bekuan darah (antikoagulan), meningkatkan nafsu makan (stomakik), perangsang kulit (kalau digosokkan ke kulit akan menimbulkan rasa panas. Jadi, digunakan sebagai campuran obat gosok), peluruh kentut (karminatif), peluruh keringat (diaforetik), peluruh liur, dan peluruh kencing (diuretik). Ekstrak buah cabai rawit mempunyai daya hambat terhadap pertumbuhan Candida albicans. Daya hambat ekstrak cabal rawit 1 mg/ml setara dengan 6,20 mcg/ml nistatin dalam formamid (Tyas Ekowati Prasetyoningsih, FF UNAIR, 1987). 

Pemanfaatan :

Komposisi :
Buahnya mengandung kapsaisin, kapsantin, karotenoid, alkaloid asiri, resin, minyak menguap, vitamin (A dan C). Kapsaisin memberikan rasa pedas pada cabai, berkhasiat untuk melancarkan aliran darah serta pematirasa kulit. Biji mengandung solanine, solamidine, solamargine, solasodine, solasomine, dan steroid saponin (kapsisidin). Kapsisidin berkhasiat sebagai antibiotik.

AGIAN YANG DIGUNAKAN

Seluruh bagian tumbuhan dapat digunakan sebagai tanaman obat, seperti buah, akar, daun, dan batang.

INDIKASI

Cabal rawit digunakan untuk :

menambah nafsu makan,

menormalkan kembali kaki dan tangan yang lemas,

batuk berdahak,

melegakan rasa hidung tersumbat pada sinusitis,

migrain.

CARA PEMAKAIAN

Untuk obat yang diminum, buah cabai rawit digunakan sesuai dengan kebutuhan. Dalam hal ini cabai rawit dapat direbus atau dibuat bubuk dan pil.

Untuk pemakaian luar, rebus buah cabai rawit secukupnya, lalu uapnya dipakai untuk memanasi bagian tubuh yang sakit atau giling cabai rawit sampai halus, lalu turapkan ke bagian tubuh yang sakit, seperti rematik, jari terasa nyeri karena kedinginan (frosbite). Gilingan daun yang diturapkan ke tempat sakit digunakan untuk mengobati sakit perut dan bisul.

CONTOH PEMAKAIAN DI MASYARAKAT

Kaki dan tangan lemas (seperti lumpuh)

Sediakan 2 bonggol akar cabai rawit, 15 pasang kaki ayam yang dipotong sedikit di atas lutut, 60 g kacang tanah, dan 6 butir hung cao. Bersihkan bahan-bahan tersebut dan potong-potong seperlunya. Tambahkan air dan arak sama banyak sampai bahan-bahan tersebut terendam seluruhnya (kira-kira 1 cm di atasnya). Selanjutnya, tim ramuan tersebut. Setelah dingin, saring dan air saringannya diminum, sehari dua kali, masing-masing separo dari ramuan.

Sakitperut

Cuci daun muda segar secukupnya, lalu giling sampai halus. Tambahkan sedikit kapur sirih, lalu aduk sampai rata. Balurkan ramuan tersebut pada bagian perut yang sakit.

Rematik

Giling 10 buah cabai rawit sampai halus. Tambahkan 1/2 sendok teh kapur sirih dan air perasan sebuah jeruk nipis, lalu aduk sampai rata. Balurkan ramuan tersebut pada bagian tubuh yang sakit.

Frosbite

Buang biji beberapa buah cabai rawit segar, lalu giling sampai halus, kemudiam balurkan ke tempat yang sakit.

Catatan:

Penderita penyakit saluran pencernaan, sakit tenggorokan, dan sakit mata dianjurkan untuk tidak mengonsumsi cabai rawit.

Rasa pedas di lidah menimbulkan rangsangan ke otak untuk mengeluarkan endorfin (opiat endogen) yang dapat menghilangkan rasa sakit dan menimbulkan perasaan lebih sehat.

Hasil penelitian terbaru, cabai rawit dapat mengurangi kecenderungan terjadinya penggumpalan darah (trombosis), menurunkan kadar kolesterol dengan cara mengurangi produksi kolesterol dan trigliserida di hati.

Pada sistem reproduksi, sifat cabai rawit yang panas dapat mengurangi rasa tegang dan sakit akibat sirkulasi darah yang buruk. Selain itu, dengan kandungan zat antioksidan yang cukup tinggi (seperti vitamin C dan beta karoten), cabai rawit dapat digunakan untuk mengatasi ketidaksuburan (infertilitas), afrodisiak, dan memperlambat proses penuaan.

Cengkeh

(Syzygium aromaticum, (Linn.) Merr.)

Sinonim :
Syzygium Perry. Eugenia caryophyllata, Thumberg. E.caryophyllus, Sprengel. Caryophyllus aromaticus, Linn. Jambos carryhophyllus, Spreng.
Familia :
Myrtaceae
Uraian :
Cengkeh (Syzygium aromaticum) termasuk jenis tumbuhan perdu yang dapat memiliki batang pohon besar dan berkayu keras, cengkeh mampu bertahan hidup puluhan bahkan sampai ratusan tahun , tingginya dapat mencapai 20 -30 meter dan cabang-cabangnya cukup lebat. Cabang-cabang dari tumbuhan cengkeh tersebut pada umumnya panjang dan dipenuhi oleh ranting-ranting kecil yang mudah patah . Mahkota atau juga lazim disebut tajuk pohon cengkeh berbentuk kerucut . Daun cengkeh berwarna hijau berbentuk bulat telur memanjang dengan bagian ujung dan panggkalnya menyudut, rata-rata mempunyai ukuran lebar berkisar 2-3 cm dan panjang daun tanpa tangkai berkisar 7,5 -12,5 cm. Bunga dan buah cengkeh akan muncul pada ujung ranting daun dengan tangkai pendekserta bertandan. Pada saat masih muda bunga cengkeh berwarna keungu-unguan , kemudian berubah menjadi kuning kehijau-hijauan dan berubah lagi menjadi merah muda apabila sudah tua. Sedang bunga cengkeh keringakan berwarna coklat kehitaman dan berasa pedas sebab mengandung minyak atsiri. Umumnya cengkeh pertama kali berbuah pada umur 4-7 tahun. Tumbuhan cengkeh akan tumbuh dengan baik apabila cukup air dan mendapat sinar matahari langsung. Di Indonesia , Cengkeh cocok ditanam baik di daerah daratan rendah dekat pantai maupun di pegunungan pada ketinggian 900 meter di atas permukaan laut.
Nama Lokal :
Clove (Inggris), Cengkeh (Indonesia, Jawa, Sunda), ; Wunga Lawang (Bali), Cangkih (Lampung), Sake (Nias); Bungeu lawang (Gayo), Cengke (Bugis), Sinke (Flores); Canke (Ujung Pandang), Gomode (Halmahera, Tidore);
Penyakit Yang Dapat Diobati :
Kolera, Menghitamkan alis mata, Menambah denyut Jantung; Campak; 

Pemanfaatan :

Komposisi :
Bunga cengkeh (Syzygium aromaticum) selain mengandung minyak atsiri, juga mengandung senyawa kimia yang disebut eugenol, asam oleanolat, asam galotanat, fenilin, karyofilin, resin dan gom.

Pacar Air

(Impatiens balsamina Linn.)

Sinonim :
Impatiens cornuta, Linn. Impatiens hortensis, Desf. Impatiens mutila, D.C. I.triflora Blanco Balsamina mutila, DC.
Familia :
Balsaminaceae
Uraian :
Berupa terna berbatang basah, bercabang, dengan daun tunggal, bentuk lanset memanjang pinggir bergerigi warna hijair muda tanpa daun penumpu. Bunga berwarna cerah, ada beberapa macam wama, seperti merah, oranye, ungu, putih, dll., ada yang “engkel” dan ada yang “dobel”. Buahnya buah kendaga, bila masak akan membuka menjadi 5 bagian yang terpilin. Biasanya ditanam sebagai tanaman hias dengan tinggi 30 80 cm.
Nama Lokal :
Sumatera: Lahine, paruinai, Jawa: pacar cai, pacar banyu; Kimhong (Jakarta), Nusatenggara: pacar foya, pacar aik; Sulawesi: Tilang-gele duluku, kolendingi unggaagu; Bunga jabelu, giabebe, gofu, laka gofu, bunga taho, ; inai anyer. (Maluku); Feng xian hum (China).;
Penyakit Yang Dapat Diobati :
Peluruh haid, Kanker pencernaan, Bengkak, Reumatik, Bisul; Gigitan ular, Ranadang kulit, Keputihan, Tulang patah/retak; Rasa nyeri, Anti-inflamasi, tertusuk benda asing di kerongkongan; 

Pemanfaatan :

Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN FARMAKOLOGIS: Terasa pahit, hangat, sedikti toxic (beracun). Berkhasiat melancarkan peredaran darah, melunakkan masa/benjolan yang keras. KANDUNGAN KIMIA: Bunga :Anthocyanins, cyanidin, delphinidin, pelargonidin, malvidin, kaempherol, quercetin. Akar :Cyanidin mono-glycoside.

Kamboja

(Plumeria rubra L.cv. Acutifolia.)

Sinonim :
Plumeria acuminata, Ait. P. acuminata, Roxb. P. acutifolia, Poir. P. alba, Blanco. P. obtusa, Lour. P. rubra, Linn. from acutifolia Woods. P. rubra, Linn. var. acutifolia (Poir) Bailey.
Familia :
Apocynaceae
Uraian :
Morfologi Kamboja Daerah asal tumbuhan ini dari Amerika tropik dan Afrika, Termasuk tanaman hias, Varitas tumbuhan kamboja terdiri dari beberapa jenis antara lain : Kamboja putih dan kamboja merah / Kamboja jepang. Batang : batang berkayu keras tinggi, mencapai 6 meter, percabangannya banyak, batang utama besar, cabang muda lunak, batangnya cenderung bengkok dan bergetah. Daun : daun hijau, berbentuk lonjong dengan kedua ujungnya meruncing dan agak keras dengan urat-urat daun yang menonjol, sering rontok terutama saat berbunga lebat, Bunga : Bunganya berbentuk terompet, muncul pada ujung-ujung tangkai, daun bunga berjumlah 5 buah, berbunga sepanjang tahun. Syarat Tumbuh : Tumbuh subur di dataran rendah sampai ketinggian tanah 700 meter di atas permukaan laut, tumbuh subur hampir di semua tempat dan tidak memilih iklim tertentu untuk berkembang biaknya.
Nama Lokal :
Kamboja (Indonesia), Semboja (Jawa), Bunga jebun (Bali); Samoja, Kamoja (Sunda), Bunga lomilate (Gorontalo); Campaka molja/bakul (Madura), Pandam (Minangkabau); Karasuti, Kolosusu, Tintis (Minahasa), Capaka kubu(Tidore);
Penyakit Yang Dapat Diobati :
Kencing nanah (Gonorrhea), Bengkak, Bisul; 

Pemanfaatan :

Komposisi :
Getah Pohon Kamboja (Plumeria acuminata) mengandung senyawa sejenis karet, triterpenoid amyrin, lupeol, kautscuk dan damar. Kandungan minyak mrnguapnya terdiri dari geraniol, sitronellol, linallol, farnesol dan fenetilalkohol.

Kembang Kertas

(Zinnia elegans Jacq.)

Sinonim :
Familia :
Asteraceae
Uraian :
Kembang kertas merupakan tanaman asli Meksiko, dan dapat ditemukan sampai ketinggian 1.400 m dpl. Tanaman ini menyukai tempat-tempat terbuka yang terkena cahaya matahari, biasa ditanam secara bergerombol di taman-taman atau di pekarangan sebagai tanaman hias atau bunganya digunakan sebagai bunga potong. Terna menahun yang tumbuh tegak dan berambut kasar ini tingginya sekitar 30-50 cm, daunnya berwarna hijau, letaknya berhadapan. Helaian daun bentuknya memanjang, ujung runcing, pangkal memeluk batang, tepi rata, tulang daun melengkung. Bentuk bunganya seperti bunga Aster, dengan warna yang beraneka ragam seperti merah tua, merah muda, kuning atau biru keunguan yang keluar dari ujung batang. Perbanyakan dengan biji.
Nama Lokal :
Kembang Kertas, Kembang ratna; Bai fi ju (China).;
Penyakit Yang Dapat Diobati :
Disentri, Kencing nanah, Bisul, Sakit pada puting susu; 

Pemanfaatan :

Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS : Tawar, sejuk

Putri Malu

(Mimosa pudica Linn.)

Sinonim :
= Mimosa asperata, Blanco.
Familia :
Mimosaccae
Uraian :
Tumbuh di pinggir jalan, tanah lapang, cepat berkembang biak, tumbuh tidur di tanah, kadang-kadang tegak. Batang bulat, berbulu dan berduri. Daun kecil-kecil tersusun majemuk, bentuk lonjong dengan ujung lancip, warna hijau (ada yang warna kemerah-merahan). Bila daun disentuh akan menutup (sensitif plant). Bunga bulat seperti bola, warna merah muda, bertangkai.
Nama Lokal :
Putri malu, si kejut, rebah bangun, akan kaget; Han xiu cao (China).;
Penyakit Yang Dapat Diobati :
Susah tidur (Insomnia), Bronkhitis, Panas tinggi, Herpes,; Reumatik, Cacingan; 

Pemanfaatan :

Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS: Manis, astringen, agak dingin. Penenang (tranquiliser), sedative, peluruh dahak (expectorant), anti batuk (antitusive), penurun panas (antipiretic), anti radang (anti-inflammatory), peluruh air seni (diuretic). KANDUNGAN KIMIA: Mimosine.

Jintan/Ajeran

(Coleus amboinicus, Lour.)

Sinonim :
Plectranthus amboinicus, Spreng.
Familia :
Labiatae
Uraian :
Jintan (COLEUS AMBOINICUS) merupakan suatu tumbuhan jenis rumpu-rumputan, mempunyai batang dan tangkai berkayu. Jintan biasanya ditanam di kebun-kebun di daerah dataran rendah sampai ketingginan 1000 meter di atas permukaan laut. Batangnya lunak dan berair, bentuk daunnya mirip bed pingpong dan tepinya bergerigi. Daun Jintan memiliki bau yang khas dan bermanfaat untuk pengobatan. Pengembangbiakan tanaman ini dapat dilakukan dengan cara stek dan dapat ditanam dalam pot maupun ditanam langsung di tanah. Jintan tumbuh di tempat-tempat yang tidak terlalu banyak kena sinar matahari dan airnya cukup (tidakterlalu kering).
Nama Lokal :
Jintan (Indonesia), Daun jinten (Jawa), Ajeran (Sunda); Majanereng (Madura), Iwak (Bali), Golong (Flores); Kuwuetu (Timor);
Penyakit Yang Dapat Diobati :
Asma, Batuk, Perut kembung, Sakit kepala, Sariawan, Demam; Luka, Borok; 

Pemanfaatan :

Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS : Rasa pahit, agak dingin, penurun panas (antipiretik), anti radang (anti inflamasi), menghentikan perdarahan, melancarkan peredaran darah, astringen. KANDUNGAN KIMIA : Phytosterin-B.

Melati

(Jasminum sambac, Ait.)

Sinonim :
Familia :
Oleranceae
Uraian :
Melati (jasminum sambac) termasuk tanaman yang mempunyai banyak manfaat. Bunganya berwarna putih mungil dan berbau harum, sering digunakan untuk berbagai kebutuhan. Melati, dapat berbunga sepanjang tahun dan dapat tumbuh subur pada tanah yang gembur dengan ketinggian sekitar 600 atau 800 meter diatas permukaan laut, asalkan mendapatkan cukup sinar matahari. Melati dapat dikembangbiakkan dengan cara stek. Tunas-tunas baru akan tampak setelah berusia sekitar 6 minggu.
Nama Lokal :
Jasmine (Inggris), Jasmin (Perancis), Yasmin (Arab); Melati (Indonesia), Melur (Jawa), Malati (Sunda); Malate (Madura), Menuh (Bali);
Penyakit Yang Dapat Diobati :
Kelebihan ASI, Sakit mata, Demam, Sakit Kepala, Sesak Napas; 

Pemanfaatan :

Komposisi :
KANDUNGAN KIMIA : Melati mengandung senyawa-senyawa unsur kimia yang besar manfaatnya untuk pengobatan. Kandungan kimia yang ada tersebut antara lain indol, benzyl, livalylacetaat.

Mengkudu

(Morinda citrifolia, Linn.)

Sinonim :
Bancudus latifolia, Rumph.
Familia :
Rubiaceae
Uraian :
Mengkudu (MORINDA CITRIFOLIA) termasuk jenis kopi-kopian. Mengkudu dapat tumbuh di dataran rendah sampai pada ketinggian tanah 1500 meter diatas permukaan laut. Mengkudu merupakan tumbuhan asli dari Indonesi. Tumbuhan ini mempunyai batang tidak terlalu besar dengan tinggi pohon 3-8 m. Daunnya bersusun berhadapan, panjang daun 20-40 cm dan lebar 7-15 cm. Bunganya berbentuk bungan bongkol yang kecil-kecil dan berwarna putih. Buahnya berwarna hijau mengkilap dan berwujud buah buni berbentuk lonjong dengan variasi trotol-trotol. Bijinya banyak dan kecil-kecil terdapat dalam daging buah. Pada umumnya tumbuhan mengkudu berkembang biak secara liar di hutan-hutan atau dipelihara orang pinggiran-pinggiran kebun rumah.
Nama Lokal :
Mengkudu (Indonesia), Pace, Kemudu, Kudu (Jawa); Cengkudu (Sunda), Kodhuk (Madura), Wengkudu (Bali);
Penyakit Yang Dapat Diobati :
Hipertensi, Sakit kuning, Demam, Influenza, Batuk, Sakit perut; Menghilangkan sisik pada kaki; 

Pemanfaatan :

Komposisi :
Buah buni tumbuhan mengkudu yang telah masak mempunyai aroma yang tidak sedap, namun mengandung sejumlah zat yang berkhasiat untuk pengobatan. Adapun kandungan zat tersebut antara lain morinda diol, morindone, morindin, damnacanthal, metil asetil, asam kapril dan sorandiyiol.

Kelor

(Moringa oleifera, Lamk.)

Sinonim :
Moringa pterygosperma, Gaertn.
Familia :
Moringacaea
Uraian :
Kelor (MORINGA OLEIVERA) termasuk jenis tumbuhan perdu yang dapat memiliki ketingginan batang 7 -11 meter. Di jawa, Kelor sering dimanfaatkan sebagai tanaman pagar karena berkhasiat untuk obat-obatan. Pohon Kelor tidak terlalu besar. Batang kayunya getas (mudah patah) dan cabangnya jarang tetapi mempunyai akar yang kuat. Daunnya berbentuk bulat telur dengan ukuran kecil-kecil bersusun majemuk dalam satu tangkai. Kelor dapat berkembang biak dengan baik pada daerah yang mempunyai ketinggian tanah 300-500 meter di atas permukaan laut. Bunganya berwarna putih kekuning kuningan dan tudung pelepah bunganya berwarna hijau. Bunga kelor keluar sepanjang tahun dengan aroma bau semerbak. Buah kelor berbentuk segi tiga memanjang yang disebut klentang (Jawa). Sedang getahnya yang telah berubah warna menjadi coklat disebut blendok (Jawa). Pengembangbiakannya dapat dengan cara stek.
Nama Lokal :
Kelor (Indonesia, Jawa, Sunda, Bali, Lampung), Kerol (Buru); Marangghi (Madura), Moltong (Flores), Kelo (Gorontalo); Keloro (Bugis), Kawano ( Sumba), Ongge (Bima); Hau fo (Timor);
Penyakit Yang Dapat Diobati :
Sakit kuning (Lever), Reumatik/encok/Pegal linu, Rabun ayam; Sakit mata, Sukar buang air kecil, Alergi/biduren, Cacingan; Luka bernanah; 

Pemanfaatan :

Komposisi :
KANDUNGAN KIMIA : Akar dan daun kelor (MORINGA OLEIVERA) mengandung zat yang berasa pahit , getir dan pedas. Biji kelor juga mengandung minyak dan lemak.

Pepaya

(Carica papaya, Linn.)

Sinonim :
Familia :
Cariccaceae
Uraian :
Pepaya (carica papaya) merupakan tumbuhan yang berbatang tegak dan basah. Pepaya menyerupai palma, bunganya berwarna putih dan buahnya yang masak berwarna kuning kemerahan, rasanya seperti buah melon. Tinggi pohon pepaya dapat mencapai 8 sampai 10 meter dengan akar yang kuat. Helaian daunnya menyerupai telapak tangan manusia. Apabila daun pepaya tersebut dilipat menjadi dua bagian persis di tengah, akan nampak bahwa daun pepaya tersebut simetris. Rongga dalam pada buah pepaya berbentuk bintang apabila penampang buahnya dipoting melintang. Tanaman ini juga dibudidayakan di kebun-kebun luas karena buahnya yang segar dan bergizi.
Nama Lokal :
Papaw (Inggris), Pepaya (Indonesia), Gedang (Sunda); Betik, Kates, Telo gantung (Jawa);
Penyakit Yang Dapat Diobati :
Batu ginjal, Hipertensi, Malaria, Sakit keputihan, Kekurangan ASI; Reumatik, Malnutrisi, Gangguan saluran kencing, haid berlebihan; Sakit Perut saat haid, Disentri, Diare, Jerawat, Ubanan; 

Pemanfaatan :

Komposisi :
KANDUNGAN KIMIA : Kandungan buah pepaya masak (100 gr) – Kalori 46 kal – Vitamin A 365 SI – Vitamin B1 0,04 mg – Vitamin C 78 mg – Kalsium 23 mg – Hidrat Arang 12,2 gram – Fosfor 12 mg – Besi 1,7 mg – Protein 0,5 mg – Air 86,7 gram Kandungan buah Pepaya Muda (100 gr) – Kalori 26 kalori. – Lemak 0,1 gram – Protein 2,1 gram – Hidrat Arang 4,9 gram – Kalsium 50 mg – Fosfor 16 mg – Besi 0,4 mg – Vitamin A 50 SI – Vitamin B1 0,02 mg – Vitamin C 19 mg – Air 92,4 gram Disamping itu buah pepaya juga mengandung unsur antibiotik, yang dapat digunakan untuk pengobatan tanpa ada efek sampingannya. Buah Pepaya juga mengandung unsur yang dapat membuat pencernaan makanan lebih sempurna, disamping memiliki daya yang dapat membuat air seni bereaksi asam, yang secara ilmiah disebut zat caricaksantin dan violaksantin. Daun pepaya juga mengandung berbagai macam zat, antara lain : – Vitamin A 18250 SI – Vitamin B1 0,15 mg – Vitamin C 140 mg – Kalori 79 kal – Protein 8,0 gram – Lemak 2 gram – Hidrat Arang 11,9 gram – Kalsium 353 mg – Fosfor 63 mg – Besi 0,8 mg – Air 75,4 gram Kandungan carposide pada daun pepaya berkhasiat sebagai obat cacing. Disamping pada daunnya, akar dan getah pepaya juga mengandung zat papayotin, karpain, kautsyuk, karposit dan vitamin

 

Cabai Merah

(Capsicum Annuum L.)

Sinonim :
-
Familia :
Solanaceae
Uraian :
Cabai berasal dari Amerika tropis, tersebar mulai dari Meksiko sampai bagian utara Amerika Selatan. Di Indonesia, umumnya cabal dibudidayakan di daerah pantai sampai pegunungan, hanya kadang-kadang menjadi liar. Perdu tegak, tinggi 1-2,5 m, setahun atau menahun. Batang berkayu, berbuku-buku, percabangan lebar, penampang bersegi, batang muda berambut halus berwarna hijau. Daun tunggal, bertangkai (panjangnya 0,5-2,5 cm), letak tersebar. Helaian daun bentuknya bulat telur sampai elips, ujung runcing, pangkal meruncing, tepi rata, peutulangan menyirip, panjang 1,5-12 cm, lebar 1-5 cm, berwarna hijau. Bunga tunggal, berbentuk bintang, berwarna putih, keluar dari ketiak daun. Buahnya buah buni berbentuk kerucut memanjang, lurus atau bengkok, meruncing pada bagian ujungnya, menggantung, permukaan licin mengilap, diameter 1-2 cm, panjang 4-17 cm, beutangkai pendek, rasanya pedas. Buah muda berwarna hijau tua, setelah masak menjadi merah cerah. Biji yang masih muda berwarna kuning, setelah tua menjadi cokelat, berbentuk pipih, berdiameter sekitar 4 mm. Rasa buahnya yang pedas dapat mengeluarkan air mata orang yang menciumnya, tetapi orang tetap membutuhkannya untuk menambah nafsu makan. Keanekaragaman jenis cabai merah cukup tinggi. Artinya, cabal merah memiliki beberapa varietas dan kultivar yang dibedakan berdasai-kan bentuk, ukuran, rasa pedas, dan warna buahnya. Cabal merah dapat diperbanyak dengan biji.
Nama Lokal :
NAMA DAERAH Sumatera: campli, capli (Aceh), ekiji-kiji, kidi-kidi (Enggano), leudeu (Gayo), lacina (Batak Karo), lasiak, lasina (Batak Toba), lada sebua (Nias), raro sigoiso (Mentawai), lado (Minangkabau), cabi (Lampung), cabe, lasinao (Melayu). Jawa: cabe, lombok, sabrang (Sunda), lombok, mengkreng, cabe (Jawa), cabhi (Madura), tabia (Bali): Nusa Tenggara: sebia (Sasak), saha, sabia (Bima), mbaku hau (Sumba), koro (Flores), hili (Sawu). Kalimantan: sahang (Banjar), rada (Sampit), sambatu (Ngaju). Sulawesi: rica (Mana-do), bisa (Sangir), mareta (Mongondow), malita (Gorontalo), lada (Makasar), ladang (Bugis). Maluku: manca (Seram), siri (Ambon), kastela (Buru), maricang (Halmahera), rica lamo (Ternate, Tidore), maresen (Kalawat), rihapuan (Kapaon), riksak (Sarmi), ungun gunah (Berik). NAMA ASING La chiao (C), spaanse peper (B), piment, guinea pepper,cayenne pepper, red pepper (I), poivre long (P), beisbeere, spanischer pfeffer (J). NAMA SIMPLISIA Capsici Fructus (buah cabai merah).
Penyakit Yang Dapat Diobati :
Cabai rasanya pedas, sifatnya panas. Buah berkhasiat stimulan, meningkatkan nafsu makan (stomakik), peluruh keringat (diaforetik), perangsang kulit, dan sebagai obat gosok. 

Pemanfaatan :

Komposisi :
Buah mengandung kapsaisin, dihidrokapsaisin, vitamin (A, C), damar, zat warna kapsantin, karoten, kapsarubin, zeasantin, kriptosantin, clan lutein. Selain itu, juga mengandung mineral, seperti zat besi, kalium, kalsium, fosfor, dan niasin. Zat aktif kapsaisin berkhasiat sebagai stimulan. Jika seseorang mengonsumsi kapsaisin terlalu banyak akan mengakibatkan rasa terbakar di mulut dan keluarnya air mata.

Kelapa

(Cocos nucifera, Linn.)

Sinonim :
Familia :
Palmaceae
Uraian :
Kelapa (Cocos nucifera) termasuk jenis tanaman palma yang mempunyai buah berukuran cukup besar. Batang pohon kelapa umumnya berdiri tegak dan tidak bercabang, dan dapat mencapai 10 – 14 meter lebih. Daunnya berpelepah, panjangnya dapat mencapai 3 – 4 meter lebih dengan sirip-sirip lidi yang menopang tiap helaian. Buahnya terbungkus dengan serabut dan batok yang cukup kuat sehingga untuk memperoleh buah kelapa harus dikuliti terlebih dahulu. Kelapa yang sudah besar dan subur dapat menghasilkan 2 – 10 buah kelapa setiap tangkainya.
Nama Lokal :
Coconut (Inggris), Cocotier (Perancis); Kelapa, Nyiur (Indonesia), Kambil, Kerambil, Klapa (Jawa);
Penyakit Yang Dapat Diobati :
Keracunan, Panas dalam, Sakit panas, Demam berdarah, morbili; Influenza, Kencing batu, Sakit saat haid, Cacing kremi, Sakit gigi; Ubanan, Ketombe; 

Pemanfaatan :

Komposisi :
Buah kelapa yang sudah tua mengandung kalori yang tinggi, sebesar 359 kal per 100 gram; daging kelapa setengah tua mengandung kalori 180 kal per 100 gram dan daging kelapa muda mengandung kalori sebesar 68 kal per 100 gram. Sedang nilai kalori rata-rata yang terdapat pada air kelapa berkisar 17 kalori per 100 gram. Air kelapa hijau, dibandingkan dengan jenis kelapa lain banyak mengandung tanin atau antidotum (anti racun) yang paling tinggi. Kandungan zat kimia lain yang menonjol yaitu berupa enzim yang mampu mengurai sifat racun. Komposisi kandungan zat kimia yang terdapat pada air kelapa antara lain asam askorbat atau vitamin C, protein, lemak, hidrat arang, kalsium atau potassium. Mineral yang terkandung pada air kelapa ialah zat besi, fosfor dan gula yang terdiri dari glukosa, fruktosa dan sukrosa. Kadar air yang terdapat pada buah kelapa sejumlah 95,5 gram dari setiap 100 gram.

Bawang Merah

(Allium cepa)

Sinonim :
Familia :
Amaryllidaceae (Liliaceae).
Uraian :
Herba semusim, tidak berbatang. Daun tunggal memeluk umbi lapis. Umbi lapis menebal dan berdaging, warna merah keputihan. Perbungaan berbentuk bongkol, mahkota bunga berbentuk bulat telur. Buah batu bulat, berwarna hijau. Biji segi tiga warna hitam. Bagian yang Digunakan Umbi lapis.
Nama Lokal :
NAMA DAERAH: Bawang abang mirah (Aceh); Pia (Batak); Bawang abang (Palembang); Bawang sirah, Barambang sirah, Dasun merah (Minangkabau); Bawang suluh (Lampung); Bawang beureum (Sunda); Brambang, Brambang abang (Jawa); Bhabang mera (Madura); Jasun bang, Jasun mirah (BaIi); Lasuna mahamu, Ransuna mahendeng, Yantuna mopura, Dansuna rundang, Lasuna randang, Lansuna mea, Lansuna Raindang (Sulawesi Utara); Bawangi (Gorontalo); Laisuna pilas, Laisuna mpilas (Roti); Kalpeo meh (Timor); Bowang wulwul (Kai); Kosai miha; Bawa rohiha (Ternate); Bawa kahori (Tidore). NAMA ASING: NAMA SIMPLISIA Cepae Bulbus; Umbi lapis Bawang Merah.
Penyakit Yang Dapat Diobati :
SIFAT KHAS Menghangatkan, rasa dan bau tajam. KHASIAT Bakterisid, ekspektoran, dan diuretik. PENELITIAN M. Jufri Samad, 1987. FMIPA Farmasi UNHAS. Telah melakukan penelitian pengaruh ekstrak umbi lapis Bawang Merah terhadap penurunan kadar gula darah normal kelinci. Dari hasil penelitian tersebut, ternyata ekstrak umbi Bawang Merah dengan dosis 250 mg/kg bb, menyebabkan penurunan kadar gula darah normal sebesar 23,46 %. Pada pemberian tolbutamid dosis 250 mg/kg bb secara oral, menunjukkan penurunan kadar gula darah normal sebesar 22,21 %, dan pemberian air suling dengan takaran 5 ml/kg bb secara oral menunjukkan penurunan kadar gula darah normal sebesar 3,00 %. Tri Purwaningsih, 1991. FMIPA Farmasi UI. Telah melakukan penelitian efek protektif Bawang Merah pada kerusakan hati akibat karbon tetraklorida.Dari hasil penelitian tersebut, ternyata Bawang Merah menghambat peningkatan GPT plasma dan kerusakan jaringan hati akibat CCl4. 

Pemanfaatan :

Komposisi :
Minyak atsiri, sikloaliin, metilaliin, dihidroaliin, flavonglikosida, kuersetin, saponin, peptida, fitohormon, vitamin, dan zat pati.

Aren

(Arenga pinnata (Wurmb.) Merr.)

Sinonim :
Arenga sacchrifera Labill.
Familia :
Arecaceae (Palmae).
Uraian :
Tidak berduri tempel. Batang tinggi sampai 25 m dan diameter 65 cm, sebagian batang yang cukup panjang berdaun, di bawahnya terdapat pelepah daun yang tepinya sobek-sobek terurai menjadi serabut hitam. Tangkai daun sampai 1,5 m, helaian daun panjangnya sampai 5 m. Anak daun sampai 145 kali 7 cm, bagian bawah ada lapisan lilin. Berumah satu, tongkol betina dengan tongkol jantan panjangnya 2,5 m. Tongkol bercabang satu kali; cabang samping panjang 1,5 m. Bunga jantan berpasangan, panjang 12-15 mm; benang sari banyak. Bunga betina berdiri sendiri, hampir bulat bola; bakal buah beruang 3, dengan 3 kepala putik. Buah buni bulat peluru, dengan ujung pesok ke dalam, garis tengah 4 cm, beruang 3, berbiji 3. Seluruh Jawa, dalam hutan atau ditanam; 1-1400 m. Catatan: Juga terkenal dengan nama yang lama Arenga saccharifera Labill. Boleh dikatakan semua bagian tanaman dipakai; akarnya untuk bahan anyaman dan untuk cambuk, batang yang dibelah untuk talang (saluran air), kayunya untuk tongkat jalan dan usuk genting, pondoh untuk sayur-mayur makan nasi, tulang daun untuk sapu dan kranjang, daun muda untuk ganti kertas rokok, serabut pelepah untuk tali ijuk, untuk genting, kranjang, sapu, sikat, terasnya dibuat „sagu”. Dari tongkol bunga jantan disadap cairan yang mengandung gula, di mana kemudian dibuat gula (gula Jawa), kalau dikhamirkan menghasilkan sagu air, arak atau cuka; bijinya dibuat manisan dan dimakan (kolang-kaling). Bagian yang digunakan Tuak/legen (hasil peragian dari air bunga) dan akar.
Nama Lokal :
NAMA DAERAH: Bak juk, Bak jok (Aceh); Pola, Paula, Bagot, Agaton, Bargot (Batak); Anau, Biluluk (Minangkabau); Kawung, Taren (Sunda);Aren, Lirang, Nanggung (Jawa); Jaka, Hano (BaIi); Meka (Sawu); Moke, Huwat (FIores); Akel, Akere, Koito, Akol, Ketan (Sawu); Inru (Bugis); Bole (Roti); Seho (Ternate). NAMA ASING: NAMA SIMPLISIA: Arengae pinnatae Radix; Akar Aren.
Penyakit Yang Dapat Diobati :
KHASIAT Diuretik. 

Pemanfaatan :

Komposisi :
TUAK: Gula dan minyak lemak.

Rambutan

(Nephelium lappaceum L.)

Sinonim :
Familia :
Sapindaceae
Uraian :
Rambutan banyak ditanam sebagai pohon buah, kadang-kadang ditemukan tumbuh liar. Tumbuhan tropis ini memerlukan iklim lembap dengan curah hujan tahunan paling sedikit 2.000 mm. Rambutan merupakan tanaman dataran rendah, hingga ketinggian 300–600 m dpl. Pohon dengan tinggi 15-25 m ini mempunyai banyak cabang. Daun majemuk menyirip letaknya berseling, dengan anak daun 2–4 pasang. Helaian anak daun bulat lonjong, panjang 7,5–20 cm, lebar 3,5–8,5 cm, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, pertulangan menyirip, tangkai silindris, warnanya hijau, kerapkali mengering. Bunga tersusun pada tandan di ujung ranting, harum, kecil-kecil, warnanya hijau muda. Bunga jantan dan bunga betina tumbuh terpisah dalam satu pohon. Buah bentuknya bulat lonjong, panjang 4–5 cm, dengan duri tempel yang bengkok, lemas sampai kaku. Kulit buahnya berwarna hijau, dan menjadi kuning atau merah kalau sudah masak. Dinding buah tebal. Biji bentuk elips, terbungkus daging buah berwarna putih transparan yang dapat dimakan dan banyak mengandung air, rasanya bervariasi dari masam sampai manis. Kulit biji tipis berkayu. Rambutan berbunga pada akhir musim kemarau dan membentuk buah pada musim hujan, sekitar November sampai Februari. Ada banyak jenis rambutan, seperti ropiah, simacan, sinyonya, lebakbulus, dan binjei. Perbanyakan dengan biji, tempelan tunas, atau dicangkok.
Nama Lokal :
NAMA DAERAH Sumatera: rambutan, rambot, rambut, rambuteun, rambuta, jailan, folui, bairabit, puru biancak, p. biawak, hahujam, kakapas, likis, takujung alu. Jawa: rambutan, corogol, tundun, bunglon, buwa buluwan. Nusa Tenggara: buluan, rambuta. Kalimantan: rambutan, siban, banamon, beriti, sanggalaong, sagalong, beliti, malit;, kayokan, bengayau, puson. Sulawesi: rambutan, rambuta, rambusa, barangkasa, bolangat, balatu, balatung, walatu, wayatu, wilatu, wulangas, lelamu, lelamun, toleang. Maluku: rambutan, rambuta. NAMA ASING Shao tzu (C), rambutan (Tag), ramboutan (P), ramustan (Spanyol). NAMA SIMPLISIA Nephelii lappacei Semen (biji rambutan). Nephelii lappacei Pericarpium (kulit buah rambutan).
Penyakit Yang Dapat Diobati :
Kulit buah berkhasiat sebagai penurun panas. Biji berkhasiat menurunkan kadar gula darah (hipoglikemik). 

Pemanfaatan :

Komposisi :
Buah mengandung karbohidrat, protein, lemak, fosfor, besi, kalsium, dan vitamin C. Kulit buah mengandung tanin dan saponin. Biji mengandung lemak dan polifenol. Daun mengandung tanin dan saponin. Kulit batang mengandung tanin, saponin, flavonoida, pectic substances, dan zat besi.

Gambir

(Uncaria gambir (Hunter.) Roxb.)

Sinonim :
Ourouparia gambir Roxb. Nauclea gambir
Familia :
Rubiaceae.
Uraian :
Tanaman perdu, tinggi 1-3 cm. Batang tegak, bulat, percabangan simpodial, warna cokelat pucat. Daun tunggal, berhadapan, bentuk lonjong, tepi bergerigi, pangkal bulat, ujung meruncing, panjang 8-13 cm, lebar 4-7 cm, warna hijau. Bunga majemuk, bentuk lonceng, di ketiak daun, panjang lebih kurang 5 cm, mahkota 5 I ielai berbentuk lonjong, warna ungu, buah berbentuk bulat telur, panjang lebih kurang 1,5 cm, warna hitam. Bagian yang Digunakan Sari daun yang dikeringkan (gambir).
Nama Lokal :
NAMA SIMPLISIA Terra Japonica, Gele Catechu; Gambir.
Penyakit Yang Dapat Diobati :
SIFAT KHAS Pahit dan kelat. KHASIAT Astringen dan hemostatik. PENELITIAN Zulfadli, 1989. Farmasi, FMIPA UNAND. Telah dilakukan uji mikrobiologi ekstrak daun dan ranting Gambir terhadap beberapa bakteri penyebab diare secara in vitro. Dari hasil penelitian tersebut, ternyata ekstrak daun dan ranting Gambir dapat menghambat pertumbuhan bakteri penyebab diare. 

Pemanfaatan :

Komposisi :
Kandungan Kimia Katekin, kuersetin, zat samak katekin, merah katekin, lendir, lemak, dan malam.

Alang Alang

(Imperata cylindrica (L.)Beauv.)

Sinonim :
Lagurus cylindricus L. , Imperata arundinacea Cirillo.
Familia :
Poaceae
Uraian :
Perawakan: herba, rumput, merayap, tinggi 30-180 cm. Batang: rimpang, merayap di bawah tanah, batang tegak membentuk satu perbungaan, padat, pada bukunya berambut jarang. Daun: tunggal, pangkal saling menutup, helaian; berbentuk pita, ujung runcing tajam, tegak, kasar, berambut jarang, ukuran 12-80 cm. x 35-18 cm. Bunga: susunan majemuk bulir majemuk, agak menguncup, panjang 6-28 cm, setiap cabang memiliki 2 bulir, cabang 2,5-5 cm, tangkai bunga 1-3 mm, gluma 1; ujung bersilia, 3-6 urat, Lemma 1 (sekam); bulat telur melebar, silia pendek 1,5-2,5 mm. Lemma 2 (sekam); memanjang, runcing 0,5-2,5 mm. Palea (sekam); 0,75-2 mm. Benang sari: kepala sari 2,5-3,5 mm, putih kekuningan atau ungu. Putik: kepala putik berbentuk bulu ayam. Buah: tipe padi. Biji: berbentuk jorong, panjang 1 mm lebih. Waktu berbunga : Januari – Desember. Daerah distribusi, Habitat dan Budidaya: Di Jawa tumbuh pada ketinggian sampai dengan 2700 m dpl, pada daerah-daerah terbuka atau setengah tertutup; rawa-rawa; pada tanah dengan aerasi yang baik; pada daerah-daerah yang habis dibuka; di tepi sungai; ekstensif pada hutan sekunder; daerah bekas terbakar; sebagai gulma di perladangan; taman dan perkebunan. Tumbuhan ini dapat mempengaruhi tanaman kultivasi lain, karena kebutuhan natrium yang relatif tinggi. Perbanyakan: berkembang biak dengan sendirinya. Setiap saat rimpang dipanen dari tumbuhan yang telah matang. Rimpang yang baik berwarna pucat, berasa manis dan sejuk. Alang-alang dapat menuyebabkan penurunan pH tanah. Besarnya penurunan pH dan hambatan terhadap proses nitrifikasi menunjukkan adanya korelasi positif dengan pertumbuhan alang-alang.
Nama Lokal :
NAMA DAERAH: Naleueng lakoe (Aceh); Jih (Gayo); Rih, Ri (Batak); Oo (Nias); Alalang, Hilalang, Ilalang (Minang kabau); Lioh (Lampung); Halalang, Tingen, Padang, Tingan, Puang, Buhang, Belalang, Bolalang (Dayak); Eurih (Sunda); Alang-alang kambengan (Jawa); Kebut, Lalang (Madura); Ambengan, Lalang (BaIi); Kii, Rii (FIores); Padengo, Padanga (Gorontalo); Deya (Bugis); Erer, Muis, Wen (Seram); Weli, Welia, Wed (Ambon). NAMA ASING: Cogon grass, satintail (En). Paillotte (Fr). Malaysia: lalang, alang-alang. Papua New Guinea: kunai (Pidgin), kurukuru (Barakau, Central Province). Philippines: kogon (Tagalog), gogon (Bikol), bulum (Ifugao). Burma (Myanmar): kyet-mei. Cambodia: sbö':w. Laos: hnha:z kh’a:. Thailand: ya-kha, laa laeng, koe hee (Karen, Mae Hong Son). Vietnam: c [or] tranh. NAMA SIMPLISIA Imperatae Rhizoma; rimpang alang-alang
Penyakit Yang Dapat Diobati :
Rimpang: pelembut kulit; peluruh air seni, pembersih darah, penambah nafsu makan, penghenti perdarahan. di samping itu dapat digunakan pula dalam upaya pengobatan penyakit kelamin (kencing nanah, kencing darah, raja singa), penyakit ginjal, luka, demam, tekanan darah tinggi dan penyakit syaraf. Semua bagian tumbuhan digunakan sebagai pakan hewan,bahan kertas,dan untuk pengobatan kurap. EFEK BIOLOGI dan FARMAKOLOGI Infusa rimpang alang-alang berefek sebagai diuretika, atas dasar peningkatan konsentrasi elektrolit (Na,K,Cl) urin tikus putih jantan. Pemberian infusa akar alang-alang dengan dosis 40, 50, 60, 70 g/kgBB berefek antipiretik pada marmot. Infusa bunga alang-alang pada konsentrasi 10% dengan dosis 12 ml/ kgBB berefek antipiretik yang relatif sama dengan suspensi parasetamol 10% pada merpati. Uji Klinik: Dekokta akar alang-alang dengan dosis 250-300 g, 2 kali pagi dan sore dapat menyembuhkan 27 kasus dari 30 penderita nefritis akut. Pada nefritis kronis, herba alang-alang dapat mengurangi edema dan menurunkan tekanan darah. Dekokta herba 250 g dalam bentuk tunggal maupun dikombinasikan dengan rimpang dan daun Nelumbo nucifera dan daun Agrimonia pilosa dapat mengobati epistaksis (mimisan), hemoptisis (batuk darah), hematuri (kencing darah), menorrhagia, dan perdarahan gastrointestinal bagian atas. Di samping itu dilaporkan juga bahwa dekokta akar alang-alang dapat efektif untuk pengobatan hepatitis viral akut pada 28 kasus; biasanya digunakan bersama-sama dengan Plantago asiatica, Glechoma longituba dan tunas Artemisia capillaris. Toksisitas: Pada pemakaian sesuai aturan, praktis tidak toksik. Efek yang tidak dfinginkan: Pusing, mual, adanya peningkatan rasa ingin buang air besar, kadang-kadang terjadi pada penggunaan klinik. Teknologi Farmasi: Selulosa daun alang-alang mempunyai daya serap terhadap air yang relatif cukup baik dalam pembuatan tablet secara cetak langsung. 

Pemanfaatan :

Komposisi :
Akar: metabolit yang telah ditemukan pada akar alang-alang ter.diri dari arundoin, fernenol, isoarborinol, silindrin, simiarenol, kampesterol, stigmasterol, ß-sitosterol, skopoletin, skopolin, p-hidroksibenzaladehida, katekol, asam klorogenat, asam isoklorogenat, asam p-kumarat, asam neoklorogenat, asam asetat, asam oksalat, asam d-malat, asam sitrat, potassium (0,75% dari berat kering), sejumlah besar kalsium dan 5-hidroksitriptamin. Dari hasil penelitian lain terhadap akar dan daun ditemukan 5 macam turunan flavonoid yaitu turunan 3′,4′,7-trihidroksi flavon, 2′,3′-dihidroksi kalkon dan 6-hidroksi flavanol. Suatu turunan flavonoid yang kemungkinan termasuk golongan flavon, flavonol tersubstitusi pada 3-0H, flavanon atau isoflavon terdapat pada fraksi ekstrak yang larut dalam etilasetat akar alang-alang. Pada fraksi ekstrak yang larut dalam air akar alang-alang ditemukan golongan senyawa flavon tanpa gugus OH bebas, flavon, flavonol tersubstitusi pada 3-0H, flavanon, atau isoflavon.

Bayam

(Amaranthus tricolor L.)

Sinonim :
A.gangeticus
Familia :
amaranthaceae.
Uraian :
Bayam berasal dari Amerika tropik. Sampai sekarang, tumbuhan ini sudah tersebar di daerah tropis dan subtropis seluruh dunia. Di Indonesia, bayam dapat tumbuh sepanjang tahun dan ditemukan pada ketinggian 5-2.000 m dpl, tumbuh di daerah panas dan dingin, tetapi tumbuh lebih subur di. dataran rendah pada lahan terbuka yang udaranya agak panas. Herba setahun, tegak atau agak condong, tinggi 0,4-1 m, dan bercabang. Batang lemah dan berair. Daun bertangkai, berbentuk bulat telur, lemas, panjang 5-8 cm, ujung tumpul, pangkal runcing, serta warnanya hijau, merah, atau hijau keputihan. Bunga dalam tukal yang rapat, bagian bawah duduk di ketiak, bagian atas berkumpul menjadi karangan bunga di ujung tangkai dan ketiak percabangan. Bunga berbentuk bulir. Bayam yang dijual di pasaran dan biasa dikonsumsi sebagai sayuran dikenal dengan bayam cabutan atau bayam sekul. Terdapat tiga varietas bayam yang termasuk ke dalam Amaranthus tricolor, yaitu bayam hijau biasa, bayam merah (Blitum rubrum), yang batang dan daunnya berwarna merah, dan bayam putih (Blitum album), yang berwarna hijau keputih-putihan. Sebagai informasi, daun dan batang bayam merah mengandung cairan berwarna merah. Selain A. tricolor, terdapat bayam jenis lain, seperti bayam kakap (A. hybridus), bayam duri (A.spinosus), dan bayam kotok/bayam tanah (A. blitum). Jenis bayam yang sering dibudidayakan adalah A. tricolor dan A. hybridus sedangkan jenis bayam lainnya tumbuh liar. Panen bayam cabut paling lama dilakukan selama 25 hari. Setelah itu, kualitasnya akan menurun karena daunnya menjadi kaku. Bayam dapat disayur bening, dibuat gado-gado, pecal, atau direbus untuk lalap. Kadangkadang, daun bayam yang muda dan lebar digunakan pula sebagai bahan rempeyek. Tanaman bayam dapat diperbanyak dengan biji.
Nama Lokal :
NAMA DAERAH: Jakarta: bayam glatik, b. putih, b. merah. Jawa: bayem abrit, b. lemah, b. ringgit, b. sekul, b. siti. Maluku: jawa lufife, tona ma gaahu, hohoru itoka tokara, baya roriha, loda kohori. Nama asing: Chinese spinach (I) Nama simplisia: Amaranthi tricoloris Folium (daun bayam), Amaranthi tricoloris Radix (akar bayam).
Penyakit Yang Dapat Diobati :
Secara umum, tanaman bayam dapat meningkatkan kerja ginjal dan melancarkan pencernaan. Akar bayam merah berkhasiat sebagai obat disentri. Bayam termasuk sayuran berserat yang dapat digunakan untuk memperlancar proses buang air besar. Makanan berserat sangat dianjurkan untuk dikonsumsi oleh penderita kanker usus besar, penderita kencing manis (diabetes mellitus), kolesterol darah tinggi, dan menurunkan berat badan. Infus daun bayam merah 30% per oral dapat meningkatkan kadar besi serum, haemoglobin, dan hematokrit kelinci yang dibuat anemia secara nyata. Peningkatan tersebut tidak berbeda jika dibandingkan dengan kelompok kelinci yang diberi sulfas ferosus. Sebagai pembanding, digunakan air suling. (Ernawati Santoso, Fakultas Farmasi, WIDMAN, 1986). 

Pemanfaatan :

Komposisi :
Bayam mengandung protein, lemak, karbohidrat, kalium, zat besi, amarantin, rutin, purin, dan vitamin (A, B dan C).

Apel

(Pyrus malus, Linn)

Sinonim :
= Malus sylvestris, Mill
Familia :
Rosaceae
Uraian :
Apel (Pyrus malus) dapat hidup subur di daerah yang mempunyai temperatur udara dingin. Tumbuhan ini di Eropa dibudidayakan terutama di daerah subtropis bagian Utara. Sedang apel lokal di Indonesia yang terkenal berasal dari daerah Malang, Jawa Timur. Atau juga berasal dari daerah Gunung Pangrango, Jawa Barat. Di Indonesia, apel dapat tumbuh dan berkembang dengan baik apabila dibudidayakan pada daerah yang mempunyai ketinggian sekitar 1200 meter di atas permukaan laut. Tumbuhan apel dikatagorikan sebagai salah satu anggota keluarga mawar-mawaran dan mempunyai tinggi batang pohon dapat mencapai 7-10 meter. Daun apel sangat mirip dengan daun tumbuhan bunga mawar. Berbentuk bulat telur dan dihiasi gerigi-gerigi kecil pada tepiannya. Pada usia produktif, apel biasanya akan berbunga pada sekitar bulan Juli. Buah apel yang berukuran macam-macam tersebut sebenarnya merupakan bunga yang membesar atau mengembang sehingga menjadi buah yang padat dan berisi.
Nama Lokal :
Apel (Indonesia, Malang), Apple (Inggris), Appel (Perancis);;
Penyakit Yang Dapat Diobati :
Kencing manis (diabetes mellitus), Diare; 

Pemanfaatan :

Komposisi :
KANDUNGAN KIMIA : Buah apel (Pyrus malus) selain mempunyai kandungan senyawa pektin juga mengandung zat gizi, antara lain (per 100 gram) : – Kalori 58 kalori – Hidrat arang 14,9 gram – Lemak 0,4 gram – Protein 0,3 gram – Kalsium 6 mg – Fosfor 10 mg – Besi 0,3 mg – Vitamin A 90 SI – Vitamin B1 0,04 mg – Vitamin C 5 mg – dan Air 84 %

Buncis

(Phaseolus vulgaris L.)

Sinonim :
Familia :
Papilionaceae (Leguminosae).
Uraian :
Semak tegak atau membelit, parrjang 0,3-3 m. Daun penumpu tetap melekat lama. Anak daun bulat telur, dengan pangkal membulat, meruncing, kedua belah sisi berambut, 5-13 kali 4-9 cm. Tandan bunga duduk di ketiak, dengan 1-2 pasangan bunga. Tangkai tandan masif, setinggi-tingginya 6 cm, kerapkali Iebih pendek. Anak daun pelindung di bawah kelopak panjang 3-9 mm. Kelopak tinggi 5-8 mm, gigi yang teratas sangat pendek. Mahkota hampir selalu putih, menjadi kuning, kadang-kadang ungu; bendera pada pangkalrrya dengan 2 telinga; lunas memutar kurang dari 2 kali; sayap berkuku panjang. Benang sari bendera Iepas, lainnya bersatu. Tangkai putik dekat ujung berjanggut. Polongan sangat berubah bentuk dan ukuran. Biji putih, kuning, merah, lila, coklat atau hitam. Keping biji dari tanaman kecambah muncul di atas tanah. Dari Amerika; banyak ditanam. Catatan: Biji dan buah dijumpai dalam banyak variasi dan diperdagangkan dengan nama yang sangat berbeda sebagai sayuran, buncis coklat dan putih, buncis spercie dan snijbonen, buncis peluru dan kievitsbonen, dsb. Bagian yang Digunakan Buah dan Biji.
Nama Lokal :
NAMA SIMPLISIA Phaseoli Semen, Fabarum Semen; Buncis. Phaseoli Fructus, Phaseoli Legumina; Buah Buncis.
Penyakit Yang Dapat Diobati :
KHASIAT Diuretik. 

Pemanfaatan :

Komposisi :
Alkaloid, flavonoida, saponin, triterpenoida, steroida, stigmasterin, trigonelin, arginin, asam amino, asparagin, kholina, tanin, fasin (toksalbumin), zat pati, vitamin dan mineral.

Belimbing wuluh

(Averrhoa bilimbi L.)

Sinonim :
Familia :
Oxalidaceae
Uraian :
Pohon kecil, tinggi mencapai 10 m dengan batang yang tidak begitu besar dan mempunyai garis tengah hanya sekitar 30 cm. Ditanam sebagai pohon buah, kadang tumbuh liar dan ditemukan dari dataran rendah sampai 500 m dpi. Pohon yang berasal dari Amerika tropis ini menghendaki tempat tumbuh tidak ternaungi dan cukup lembab. Belimbing wuluh mempunyai batang kasar berbenjol-benjol, percabangan sedikit, arahnya condong ke atas. Cabang muda berambut halus seperti beludru, warnanya coklat muda. Daun berupa daun majemuk menyirip ganjil dengan 21-45 pasang anak daun. Anak daun bertangkai pendek, bentuknya bulat telur sampai jorong, ujung runcing, pangkal membundar, tepi rata, panjang 2-10 cm, lebar 1-3 cm, warnanya hijau, permukaan bawah hijau muda. Perbungaan berupa malai, berkelompok, keluar dari batang atau percabangan yang besar, bunga kecil-kecil berbentuk bintang warnanya ungu kemerahan. Buahnya buah buni, bentuknya bulat lonjong bersegi, panjang 4-6,5 ern, warnanya hijau kekuningan, bila masak berair banyak, rasanya asam. Biji bentuknya bulat telur, gepeng. Rasa buahnya asam, digunakan sebagai sirop penyegar, bahan penyedap masakan, membersihkan noda pada kain, mengkilapkan barang-barang yang terbuat dari kuningan, membersihkan tangan yang kotor atau sebagai bahan obat tradisional. Perbanyakan dengan biji dan cangkok.
Nama Lokal :
Limeng, selimeng, thlimeng (Aceh), selemeng (Gayo),; Asom, belimbing, balimbingan (Batak), malimbi (Nias),; balimbieng (Minangkabau), belimbing asam (Melayu),; Balimbing (Lampung). calincing, balingbing (Sunda),; Balimbing wuluh (Jawa), bhalingbhing bulu (Madura).; Blingbing buloh (Bali), limbi (Bima), balimbeng (Flores),; Libi (Sawu), belerang (Sangi).;
Penyakit Yang Dapat Diobati :
Batuk, sariawan (stomatitis), perut sakit, gondongan (parotitis),; Rematik, batuk rejan, gusi berdarah, sariawan, sakit gigi berlubang; Jerawat, panu, tekanan darah tinggi (hipertensi), kelumpuhan,; Memperbaiki fungsi pencernaan, radang rektum.; 

Pemanfaatan :

Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS: Rasa asam, sejuk. Menghilangkan sakit (analgetik), memperbanyak pengeluaran empedu, anti radang, peluruh kencing, astringent. KANDUNGAN KIMIA: Batang: Saponin, tanin, glucoside, calsium oksalat, sulfur, asam format, peroksidase. Daun: Tanin, sulfur, asam format, peroksidase, calsium oksalat, kalium sitrat.

Jamur Kayu

(Ganoderma lucidum (Leyss.ex Fr.) Karst.)

Sinonim :
Familia :
Polyporaceae
Uraian :
Tumbuh saprofif pada batang kayu yang lapuk, tumbuh liar dan kadang dibudidayakan. Badan buah bertangkai panjang yang tumbuh lurus ke atas, topi dari badan buahnya menempel pada tangkai tersebut, bangun setengah lingkaran dan tumbuh mendatar. Badan buah menunjukkan lingkaran-lingkaran yang merupakan batas periode pertumbuhan, tepi berombak atau berlekuk, sisi atas dengan lipatan-lipatan radier, warnanya coklat merah keunguan, mengkilat seperti lak. Berumur beberapa tahun dengan tiap-tiap kali membentuk lapisan-lapisan himenofora baru.
Nama Lokal :
Supa sinduk (Sunda).;
Penyakit Yang Dapat Diobati :
Sukar tidur (Insomnia), pusing, bronkhitis, asma, silicosis, hepatitis; Hipertensi, sakit jantung, sakit lambung, tidak napsu makan; Rematik; 

Pemanfaatan :

Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS: Rasanya manis sedikit pahit, hangat, tidak beracun. Menguatkan dan meningkatkan daya tahan tubuh, mencegah penyakit jantung, aphrodisiak, menambah napsu makan (stomakik), penenang (sedatif, obat batuk (antitusif dan menghilangkan sesak (anti-asthmatic). KANDUNGAN KIMIA: Ergosterol, coumarin, fungal lysozyme, asam protease, protein yang larut dalam air, asam amino, polypeptidase dan saccharida, serta beberapa macam mineral seperti natrium (Na), calcium (Ca), zinc (Zn), copper (Co) dan mangan (Mn).

Jagung

(Zea mays L.)

Sinonim :
Familia :
Poaceae (Gramineae).
Uraian :
Tanaman berumpun, tegak, tinggi lebih kurang 1,5 meter. Batang bulat, masif, tidak bercabang, warna kuning atau jingga. Daun tunggal, berpelepah, bulat panjang, ujung runcing, tepi rata, panjang 35-100 cm, lebar 3-12 cm, warna hijau. Bunga majemuk, berumah satu, bunga jantan dan betina bentuk bulir, di ujung batang dan di ketiak daun, warna putih. Buah berbentuk tongkol, panjang 8-20 cm, warna hijau kekuningan.
Nama Lokal :
NAMA SIMPLISIA Maidis Stigmata; Rambut Jagung. Maidis Amylum; Pati Jagung.
Penyakit Yang Dapat Diobati :
Sifat Khas Agak manis. Khasiat Antilitik, diuretik, dan hipotensif. PENELITIAN Sukensri Hardianto, 1989. Fakultas Farmasi, UGM. Pembimbing: Dr. Ediati S., Apt. dan DR. Sasmito. telah melakukan penelitian pengaruh infus tongkol Jagung muda terhadap daya larut batu ginjal kalsium secara in vitro. Dari hasil penelitian tersebut, ternyata: 1. Adanya pengaruh antara kadar infus dan kadar kalium vang teriarut dalam larutan. 2. Adanva pengaruh antara kadar infus dan kadar Y{alsium vang terlarut dalam larutan. 3. Batu ginjal kalsium mempunyai daya larut paling besar dalam infus tongkol Jagung muda dengan kadar 5%. Pada kadar infus yang lebih tinggi daya larutnya mengalami penurunan 

Pemanfaatan :

Komposisi :
Rambut : Saponin, zat samak, flavon, minyak atsiri, minyak lemak, alantoin, dan zat pahit. Bunga : Stigmasterol.

Beringin

(Ficus benyamina L.)

Sinonim :
= Ficus microcarpa, Linn. = F.nitida, auctt. = F.retusa, auctt. = F.retusa, auctt. non Linn. = F.retusa var. nitida auctt. non verae.
Familia :
Moraceae
Uraian :
Beringin banyak ditemukan di tepi jalan, pinggiran kota atau tumbuh di tepi jurang. Pohon besar, tinggi 20 – 25 m, berakar tunggang. Batang tegak, bulat, permukaan kasar, cokelat kehitaman, percabangan simpodial, pada batang keluar akar gantung (akar udara). Daun tunggal, bertangkai pendek, letak bersilang berhadapan, bentuknya lonjong, tepi rata, ujung runcing, pangkal turnpul, panjang 3 – 6 cm, lebar 2 – 4 cm, pertulangan menyirip, hijau. Bunga tunggal, keluar dari ketiak daun, kelopak bentuk corong, mahkota bulat, halus, kuning kehijauan. Buah buni, bulat, panjang 0,5 – 1 cm, masih muda hijau, setelah tua merah. Biji bulat, keras, putih.
Nama Lokal :
Caringin (Sunda), waringin (Jawa, Sumatera).; Chinese banyan, (China), banyan tree (Inggris).;
Penyakit Yang Dapat Diobati :
Pilek, demam tinggi, radang amandel (tonsilitis), nyeri rematik sendi, ; Luka terpukul (memar), influenza, radang saluran napas (bronkhitis); Batuk rejan (pertusis), malaria, radang usus akut (acute enteritis),; Disentri, kejang panas pada anak.; 

Pemanfaatan :

Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS Rasa sedikit pahit, astringen, sejuk. KANDUNGAN KIMIA : Akar udara mengandung asam amino, fenol, gula, dan asam orange.

Taksonomi


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Kata taksonomi diambil dari bahasa Yunani tassein yang berarti untuk mengklasifikasi dan nomos yang berarti aturan. Taksonomi dapat diartikan sebagai klasifikasi berhirarki dari sesuatu, atau prinsip yang mendasari klasifikasi. Hampir semua — benda bergerak, benda diam, tempat, dan kejadian — dapat diklasifikasikan menurut beberapa skema taksonomi.

Daftar isi

[sembunyikan]

//

[sunting] Taksonomi dalam biologi

Lihat pula Tata nama biologi

Dalam biologi, taksonomi merupakan cabang ilmu tersendiri, yang kerap disamakan dengan klasifikasi atau sistematika. Sistem yang dipakai adalah penamaan dengan dua sebutan, yang dikenal sebagai tata nama binomial atau binomial nomenclature, yang diusulkan oleh Carl von Linne (Latin: Carolus Linnaeus), seorang naturalis berkebangsaan Swedia.

Ia memperkenalkan enam hierarki (pemeringkatan) untuk mengelompokkan semua organisme hidup. Keenam hierarki (yang disebut takson) itu berturut-turut (dari tertinggi hingga terendah, istilah dalam kurung adalah usulan untuk penggunaan dalam bahasa Indonesia):

Bagi tumbuh-tumbuhan, istilah Divisio sering dipakai untuk menggantikan Filum.

Dalam tatanama binomial, penamaan suatu jenis cukup hanya menyebutkan nama marga (selalu diawali dengan huruf besar) dan nama jenis (selalu diawali dengan huruf kecil) yang dicetak miring (dicetak tegak jika naskah utama dicetak miring) atau ditulis dengan garis bawah. Aturan ini seharusnya tidak akan membingungkan karena nama marga tidak boleh sama untuk tingkatan takson lain yang lebih tinggi.

Perkembangan pengetahuan lebih lanjut memaksa dibuatnya takson baru di antara keenam takson yang sudah ada (memakai awalan ‘super-‘ dan ‘sub-‘) dan juga takson di bawah tingkat jenis (infraspesies) (varietas dan forma). Dibuat pula satu takson di atas Phylum (disebut Regnum (secara harafiah berarti ‘Kerajaan’) untuk membedakan Prokariota (regnum Archaea dan Bacteria) dan Eukariota (regnum Mycota, Plantae atau Tumbuhan, dan Animalia Hewan).

[sunting] Taksonomi dalam pedologi

Dalam cabang ilmu tanah, pedologi, taksonomi tanah dibuat berdasarkan sejumlah variabel yang mencirikan keadaan suatu jenis tanah. Karena klasifikasi awal tidak sistematis, pada tahun 1975 tim dari ‘Soil Survey Staff’ dari Departemen Pertanian Amerika Serikan (USDA) menerbitkan suatu kesepakatan dalam taksonomi tanah. Sejak saat itu, setiap jenis tanah paling sedikit memiliki dua nama. Meskipun nama baru sudah diberikan, nama lama seringkali masih dipakai karena aturan dari Soil Survey Staff dianggap terlalu rinci.

[sunting] Taksonomi dalam pendidikan

Lihat pula Taksonomi Bloom

Dalam pendidikan, taksonomi dibuat untuk mengklasifikasikan tujuan pendidikan. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain, yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotor. Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah.

Taksonomi ini pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom dan kawan-kawan pada tahun 1956, sehingga sering pula disebut sebagai “Taksonomi Bloom”.

[sunting] Lihat pula



Tata nama biologi


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Tata nama dalam biologi telah mengalami perubahan berkali-kali semenjak manusia mencatat berbagai jenis organisme. Plinius dari masa Kekaisaran Romawi telah menulis sejumlah nama tumbuhan dan hewan dalam ensiklopedia yang dibuatnya dalam bahasa Latin. Sistem penamaan organisme selanjutnya selalu menggunakan bahasa Latin dalam tradisi pencatatan Eropa. Hingga sekarang sukar dijumpai sistem penulisan nama organisme yang dipakai dalam tradisi Arab atau Tiongkok. Kemungkinan dalam tradisi ini penulisan nama menggunakan nama setempat (nama lokal). Keadaan berubah setelah cara penamaan yang lebih sistematik diperkenalkan oleh Carolus Linnaeus dalam kitab yang ditulisnya, Systema Naturae (“Sistematika Alamiah”).

Daftar isi

[sembunyikan]

//

[sunting] Tata nama binomial

Tata nama binomial (binomial berarti ‘dua nama’) merupakan aturan penamaan baku bagi semua organisme (makhluk hidup) yang terdiri dari dua kata dari sistem taksonomi (biologi), dengan mengambil nama genus dan nama spesies. Nama yang dipakai adalah nama baku yang diberikan dalam bahasa Latin atau bahasa lain yang dilatinkan. Aturan ini pada awalnya diterapkan untuk fungi, tumbuhan dan hewan oleh penyusunnya (Carolus Linnaeus), namun kemudian segera diterapkan untuk bakteri pula. Sebutan yang disepakati untuk nama ini adalah ‘nama ilmiah’ (scientific name). Awam seringkali menyebutnya sebagai “nama latin” meskipun istilah ini tidak tepat sepenuhnya, karena sebagian besar nama yang diberikan bukan istilah asli dalam bahasa latin melainkan nama yang diberikan oleh orang yang pertama kali memberi pertelaan atau deskripsi (disebut deskriptor) lalu dilatinkan.

Penamaan organisme pada saat ini diatur dalam Peraturan Internasional bagi Tata Nama Botani (ICBN) bagi tumbuhan, beberapa alga, fungi, dan lumut kerak, serta fosil tumbuhan; Peraturan Internasional bagi Tata Nama Zoologi (ICZN) bagi hewan dan fosil hewan; dan Peraturan Internasional bagi Tata Nama Prokariota (ICNP). Aturan penamaan dalam biologi, khususnya tumbuhan, tidak perlu dikacaukan dengan aturan lain yang berlaku bagi tanaman budidaya (Peraturan Internasional bagi Tata Nama Tanaman Budidaya, ICNCP).

[sunting] Aturan penulisan

  • Aturan penulisan dalam tatanama binomial selalu menempatkan nama (“epitet” dari epithet) genus di awal dan nama (“epitet”) spesies mengikutinya.
  • Nama genus SELALU diawali dengan huruf kapital (huruf besar, uppercase) dan nama spesies SELALU diawali dengan huruf biasa (huruf kecil, lowercase).
  • Penulisan nama ini tidak mengikuti tipografi yang menyertainya (artinya, suatu teks yang semuanya menggunakan huruf kapital/balok, misalnya pada judul suatu naskah, tidak menjadikan penulisan nama ilmiah menjadi huruf kapital semua) kecuali untuk hal berikut:
1. Pada teks dengan huruf tegak (huruf latin), nama ilmiah ditulis dengan huruf miring (huruf italik), dan sebaliknya. Contoh: Glycine soja, Pavo muticus. Perlu diperhatikan bahwa cara penulisan ini adalah konvensi yang berlaku saat ini sejak awal abad ke-20. Sebelumnya, seperti yang dilakukan pula oleh Carolus Linnaeus, nama atau epitet spesies diawali dengan huruf besar jika diambil dari nama orang atau tempat.
2. Pada teks tulisan tangan, nama ilmiah diberi garis bawah yang terpisah untuk nama genus dan nama spesies.
  • Nama lengkap (untuk hewan) atau singkatan (untuk tumbuhan) dari deskriptor boleh diberikan di belakang nama spesies, dan ditulis dengan huruf tegak (latin) atau tanpa garis bawah (jika tulisan tangan). Jika suatu spesies digolongkan dalam genus yang berbeda dari yang berlaku sekarang, nama deskriptor ditulis dalam tanda kurung. Contoh: Glycine max Merr., Passer domesticus (Linnaeus, 1978) — yang terakhir semula dimasukkan dalam genus Fringilla, sehingga diberi tanda kurung (parentesis).
  • Pada penulisan teks yang menyertakan nama umum/trivial, nama ilmiah biasanya menyusul dan diletakkan dalam tanda kurung.
Contoh pada suatu judul: “PENGUJIAN DAYA TAHAN KEDELAI (Glycine max Merr.) TERHADAP BEBERAPA TINGKAT SALINITAS”. (Penjelasan: Merr. adalah singkatan dari deskriptor (dalam contoh ini E.D. Merrill) yang hasil karyanya diakui untuk menggambarkan Glycine max. Nama Glycine max diberikan dalam judul karena ada spesies lain, Glycine soja, yang juga disebut kedelai.).
  • Nama ilmiah ditulis lengkap apabila disebutkan pertama kali. Penyebutan selanjutnya cukup dengan mengambil huruf awal nama genus dan diberi titik lalu nama spesies secara lengkap. Contoh: Tumbuhan dengan bunga terbesar dapat ditemukan di hutan-hutan Bengkulu, yang dikenal sebagai padma raksasa (Rafflesia arnoldii). Di Pulau Jawa ditemukan pula kerabatnya, yang dikenal sebagai R. patma, dengan ukuran bunga yang lebih kecil.
Sebutan E. coli atau T. rex berasal dari konvensi ini.
  • Singkatan “sp.” (zoologi) atau “spec.” (botani) digunakan jika nama spesies tidak dapat atau tidak perlu dijelaskan. Singkatan “spp.” (zoologi dan botani) merupakan bentuk jamak. Contoh: Canis sp., berarti satu jenis dari genus Canis; Adiantum spp., berarti jenis-jenis Adiantum.
  • Sering dikacaukan dengan singkatan sebelumnya adalah “ssp.” (zoologi) atau “subsp.” (botani) yang menunjukkan subspesies yang belum diidentifikasi. Singkatan ini berarti “subspesies”, dan bentuk jamaknya “sspp.” atau “subspp.”
  • Singkatan “cf.” (dari confer) dipakai jika identifikasi nama belum pasti. Contoh: Corvus cf. splendens berarti “sejenis burung mirip dengan gagak (Corvus splendens) tapi belum dipastikan sama dengan spesies ini”.
  • Penamaan fungi mengikuti penamaan tumbuhan.
  • Tatanama binomial dikenal pula sebagai “Sistem Klasifikasi Binomial”.

[sunting] Tatanama trinomial

Wiki letter w.svg Bagian ini membutuhkan pengembangan.

Penamaan biologi dapat diperluas hingga tingkat di bawah spesies (subspesies). Dalam zoologi penamaan ini disebut “trinomen” sedangkan di bidang botani penamaan ini disebut “trinomial”.

[sunting] Lihat pula

Search Wikibooks Wikibooks memiliki buku bertajuk

NAMA ILMIAH TUMBUHAN


No Nama Umum Nama Latin
1 Abei Fragaria
2 Abrosia Abrosia spp
3 Abutilon Abutilon spp
4 Acer Acer palmatum
5 Adas Foeniculum vulgare
6 Adas Sowa Aqethum grave
7 Adas-adasan Gomphrena globosa
8 Aechmea Aechmea
9 Aesculus Aesculus hippocastanum
10 Ageratum Ageratum
11 Aglaonema Aglaonema sp
12 Aglaonema Silver Aglaonema commutatum
13 Aglaonema Treubi Aglaonema treubi
14 Agropiron Agropiron
15 Akalifa Acalypha sp
16 Akalifa (Ekor tupai) Acalypha wilkesiana
17 Akar Gomet Pericamphylus glaucus
18 Akar Kelimpar Embalia ribes Burm
19 Akar Kepayang Hodgsonia macrocarpa
20 Akar Kucing Toddalisa asiatica
21 Akar Naga Poliypodium feei
22 Akar Rumput Alternanthera sessilis
23 Akar Sambang Merremia peltata
24 Akar Slemang Merremia umbellata
25 Akar Wangi Andropogon zizanioides
26 Akasia Cassia sp
27 Alamanda Alamanda chatartica
28 Alang-alang Imperata cylindrica
29 Alba Rosa Cordyline terminalis
30 Aleander Nerium oleamder
31 Almond Prunus dulcis
32 Alpukat Persea americana
33 Alstroemeria Alstroemeria
34 Aluminium kadri Pilea cadierei
35 Alvalva Medicago sativa
36 Alvalva Kuning Medicago falcata
37 Ambong-ambong Bidens
38 Ambong-ambong (Ketul) Bidens pilosa
39 Ambra Pelargonium radula
40 Andevi Chicorium endivia
41 Andong Rhadamnia cinerea
42 Anemon Korona Annemon coronaria
43 Anggrek Orcidaceae
44 Anggrek Bulan Phalaenopsis amabilis
45 Anggrek Buntut Bajing Rhinchostylis retusa
46 Anggrek Dendro Dedrobium sp
47 Anggrek Dendro Larat Dendrobium phalaenopsis
48 Anggrek Dendro Merpati Dendrobium crumenatum
49 Anggrek Dendro Rusa Dendrobium veratroides
50 Anggrek Dendro Sumba Dendrobium purpureum
51 Anggrek Ekor Tupai Rhinchostylis retusa
52 Anggrek Eria Kancil Eria javanica
53 Anggrek Eria Konde Eria albido tomentosa
54 Anggrek Eria Lili Eria hyachintoides
55 Anggrek Eria Lily Eria hyachintoides
56 Anggrek Eria Mawar Eria flvascen
57 Anggrek Eria Rotan Eria compressa
58 Anggrek Hitam Coelogyne pandurata
59 Anggrek Kalajengking Arachnis flos-aeris
60 Anggrek Kasut Paphiopedilum sp
61 Anggrek Kasut Belang Paphiopedilum lowii
62 Anggrek Kasut Berbulu Paphiopedilum glaucophyllum
63 Anggrek Kasut Hijau Paphiopedilum javanicum
64 Anggrek Kasut Kumis Cypripedium chamberlalianum
65 Anggrek Kasut Pita Paphiopedilum tonsum
66 Anggrek Kepang Pholidota imbricata
67 Anggrek Macan Gramatophyllum sp
68 Anggrek Mata Sapi Dendrobium anosum
69 Anggrek Oncidium Oncidium sp
70 Anggrek Tanah Spathoglottis aurea
71 Anggrek Tanah Apuy Phajus tankervilliae
72 Anggrek Tanah Coklat Phajus callosus
73 Anggrek Tanah Kuning Phajus flavus
74 Anggrek Tebu Gramatophyllum speciosum
75 Anggrek Vanda Vanda
76 Anggrung Irema orientalis
77 Anggur Vitis vinifera
78 Anggur Amerika Selatan Vitis labrusca
79 Anggur Bali Alphonso lavalle
80 Anggur Merah Vitis vinifera
81 Angsana Pterocarpus indica
82 Annemon Annemon
83 Anthurium Anthurium sp
84 Anthurium Flamingo Anthurium adreanum
85 Anthurium Keris Anthurium reneissance
86 Anthurium Kuping gajah Anthurium crystallinum
87 Anting Putri Wrightia religiosa
88 Anting-anting Fuchsia
89 Anyang-anyang Elaeocarpus glandiflorus
90 Anyelir Dianthus caryophyllus
91 Apel Malus silveltris
92 Apisditra Apisditra elatior
93 Aprikot Prunus mume
94 Apung Azzola pinnata
95 Ara Ficus pumnila
96 Aren Arenga pinnata
97 Areuy kawao Milletia sericea
98 Areuy ki asahan Tetracera indica Merr
99 Articoke Cynara scolimus
100 Asam Gelugur Garcinia atroviridis
101 Asam Jawa Tamarindus indica
102 Asam Londo Pithecolobium dulce
103 Asam Selong Eugenia uniflora
104 Asiri Laurus nobilis
105 Asparagus Asparague officinalis
106 Asparagus Vigna sesquipedalis
107 Aster Aster novae-angeliae
108 Awar awar Ficus septica
109 Azela (rumput azela) Rhododendrum sp
110 Babydoll Cordyline terminalis
111 Bacang Mangifera foetida
112 Bakau Bruguiera conyugata
113 Bakung Crinum asiaticum
114 Balam Palaquium qutta
115 Balam Merah Mallotus paniculate
116 Balam Merah Palaquium rostratum
117 Bambu Apus Gigantochloa apus
118 Bambu Ater Gigantochloa atter
119 Bambu Ater Gigantochloa atter
120 Bambu Bangkok Schizostachym caudatum
121 Bambu Batu Dendrocalamus strictus
122 Bambu Betung Dendrocalamus asper
123 Bambu Botol Schizostachyum zollingeri
124 Bambu Cangkoreh Dinochloa scandens
125 Bambu Cendani Phyllostachys sp
126 Bambu Duri Bambusa spinosa
127 Bambu Embong Bambusa horsfieldii
128 Bambu Gading Bambusa vulgaris
129 Bambu Gedang Bambusa ventricosa
130 Bambu Gombong Gigantochloa verticillata
131 Bambu Jepang Variegata Arandinaria japonica/Sasa fortunei
132 Bambu Kuning Bambusa vulgaris
133 Bambu Kuning Phyllostachys sulphurea
134 Bambu Ori Bambusa arundinacea
135 Bambu Pagar Bambusa glaucescens
136 Bambu Rejeki Dracaena
137 Bambu Suling Schizostachyum silicatum/Bambusa jacobsii
138 Bambu Tamiang Schizostachyum blumei
139 Bambu Telur Schizostachyum zollingeri
140 Bambu Wuluh Schizostachyum mosum
141 Bambu Wulung Phyllostachys puberuka
142 Bandotan Ageratum conyzoides
143 Baru Laut Thespesia populnea
144 Basia Bassia latifplia
145 Batu Chaetocarpus castaneicarpus
146 Bawang Bombay Allium cepa
147 Bawang Daun Allium fistulosum
148 Bawang Lokio Allium schoenoprasum
149 Bawang Merah Allium ascalonicum
150 Bawang Prei Allium porrum
151 Bawang Putih Allium sativum
152 Bawang-bawangan Zephyranthes spp
153 Bay Laurus nobilis
154 Bayam Amaranthus sp
155 Bayam Cabut Amaranthus tricolor
156 Bayam Duri Amaranthus spinosus
157 Bayam Eropa Spnacia oleracea
158 Bayam Kakap Amaranthus hybridus
159 Bayam Merah Celosia argentea
160 Bayam Raja Amaranthus hybridus
161 Bayam Selandia Baru Tetragonia expansa
162 Bayam Srilangka Basella alba
163 Bayas Oncosperma horidum
164 Bayur Pterospermum javanicum
165 Begonia Begonia glabra
166 Begonia Florens Begonia semperflorens
167 Belian Wangi Palaquium obovatum
168 Belimbing manis Averrhoa carambola
169 Belimbing wuluh Averrhoa bilimbi
170 Belis Bellis
171 Beluchus Cratoxylon linguistrinum
172 Beluntas Pluchea indica
173 Benalu Dendrophthoe sp
174 Benalu The/The Hijau Dendrophthoe patandra
175 Benda Artocarpus elasticus
176 Bengkak Hernandia ovigera
177 Bengkirai Dryobalanops
178 Bengkuang Pachyrrhizus erosus
179 Bengle Zingiber cassummunar / Z. Montanum
180 Bengle Hantu Zingiber ottensii
181 Bentoel Daun Xanthosmoma sagittifolium
182 Benuang Duabanga molucana
183 Berangan Castanopsis inermis
184 Berangan Duri Castanopsis argentea
185 Beras Oriza sp
186 Berenuk Crescentia cujete
187 Beriang Ploiarum alterniflorum
188 Beringin Ficus benyamina
189 Beringin Karet Ficus retusa
190 Beringin Kimeng Ficus microcarpa
191 Beringin Korea Ficus coreana
192 Besi Eusideroxylon zwageri
193 Beti Ayer Flueggia virosa
194 Bidani Quisqualis indica
195 Bidara Zizypus jujuba
196 Bidara Laut Ximenia americana
197 Bidara Upas Merremia mammosa
198 Bidasari Porarna volubilis
199 Bieng-biengan Chenopodium
200 Biksa (Gelinggem) Bixa orellana
201 Binjai Mangifera caesia
202 Bintaro Cerbera manghas
203 Bintaro Codollam
204 Bira Alocasia indica
205 Birch Betula pendula
206 Bit Beta vulgaris
207 Blencong Commersonia bartramia
208 Blestru Luffa cylindrica
209 Blewah Cucumis melo var cantalupensis
210 Bligo Benincasa hispida
211 Blueberry Vaccinium spp
212 Bodi Ficus religiosa
213 Bodi Ficus rumphii
214 Bomaba Bomabaceae
215 Bombax Bombax buonopozense
216 Borage Borrago officinalis
217 Bougenville Bougenvilia spectabilis
218 Brokoli Brassica oleracea var italica
219 Bromeliad (nanas hias) Bromeliad sp
220 Bromus Bromus inermis
221 Brotowali Tinospora tuberculata
222 Bruas Garcinia celebica
223 Brucea Brucea javanica
224 Buah Ajaib Synsepalum dulcificum
225 Buah Mentega Diospyros phillippinensis
226 Buah Merah Pandanus conoideus
227 Bulan bulan Endospermum malaccense
228 Bulangan Gmelina philiappensis
229 Bunga Bangkai Amorphopalus titanum
230 Bunga Bokor Hydrangea macrophylla
231 Bunga Bugang Clerodendron calamitosum
232 Bunga Cangkak Schima wallichii
233 Bunga embun Drosera sp
234 Bunga Kertas Zinia elegan
235 Bunga Kuning Cassia surattensis
236 Bunga Kupu-Kupu Bauhinia purpurea
237 Bunga Lampion Irian Mucuna beneetti
238 Bunga Lilin Hoya carnosa
239 Bunga Matahari Helianthus anuus
240 Bunga Merak Caesalpinia pulcherrima
241 Bunga Mulut Naga Antirrhinum majus
242 Bunga Negro Sinningia speciosa
243 Bunga Pagoda Clerodendron paniculatum
244 Bunga Patma Rafflesia patma
245 Bunga Pukul Empat Mirabilis jalapa
246 Bunga Pulu (Cartamus) Carthamus tinctorius
247 Bunga Saputangan Maniltoa grandiflora
248 Bunga Sepatu Hibiscus rosa sinensis
249 Bunga Susu Ervatamia coronaria
250 Bunga Tahi Ayam Lantana tamara
251 Bunga Tahi Ayam Tagetes
252 Bunga tengah hari Pentapetes phoenicea
253 Bungur Besar Lagerstroemia indica
254 Bungur Jepang Lagerstroemia
255 Buni Antidesma bunius
256 Bunut Ficus glabela
257 Burgundi Ficus elastica
258 Buta Excoecaria agalocha
259 Butun Barringtonia asiatica
260 Buwah Susu Passiflora laurifolia
261 Buxus Buxus sempervirens
262 Cabai Capsicum annum
263 Cabai Besar Capsicum annuum var Grossum
264 Cabai Rawit Capsicum frutescens
265 Cabe Jawa Piper retrofractum
266 Cabe Puyang Polygonum hidropiper
267 Cakar Ayam Digitaria adscendens
268 Calathea (Pisang hias) Calathea sp
269 Calathea Argentea Calathea picturata
270 Calathea lurik Calathea princeps
271 Calathea Makoyama Calathea makoyama
272 Calathea Mawar Calathea rosea-picta
273 Calathea zebrina Calathea zebrina
274 Calendula Calendula officinalis
275 Calincing Oxalis corniculata
276 Calodendrum Calodendrum capanse
277 Camomille Anthemis nobilis
278 Candu Papaver semmiferum
279 Cangkring Erythrina fusca
280 Cantel Sorghum halepense
281 Capayan Desmodium umbellatum
282 Caragana Caragana arborescen
283 Caria Carya illinoinensis
284 Carissa Carissa grandiflora
285 Cartamus ( Pulu) Carthamus tinctorius
286 Cedrus Cedrus
287 Cemara angin Casuarina equisetifolia
288 Cemara Duri Juniperus rigida
289 Cemara Embun Casuarina equisetifolia
290 Cemara Kipas Casuarina equisetifolia
291 Cemara Laut Casuarina equisetifolia
292 Cemara Norfolk Araucaria heterophylla
293 Cemara Pinus Casuarina cunninghamiana
294 Cemara Pua Pua Juniperus chinensis
295 Cemara Putih Casuarina equisetifolia
296 Cemara Udang Casuarina equisetifolia
297 Cempaka putih Michelia alba
298 Cempedak Artocarpus champeden
299 Cemplok Abutilon indicum
300 Cendana Santalum album
301 Cenela Calceolaria
302 Cengkeh Eugenia aromatica
303 Centuri Centuarea
304 Ceplukan Physalis minima / Phycalis peruviana
305 Cerakin Croton triglium
306 Cerlang laut Helitiera littoralis
307 Ceroton Croton trigilum
308 Ceuri Garcinia dioica
309 Chaya Cnidoscolus aconitifolus
310 Chemperai Chemperela manillana
311 Cherry Prunus avium
312 Chesnut Castanea dentata
313 Chicorium Chicorium
314 Cincau Cycles barbata
315 Circium Circium sp
316 Coca jawa Erythroxylon nova granatense
317 Cocor Bebek Kalanchoe blossfeldiana
318 Coklat Theobroma cacao
319 Cola Cola acuminata
320 Coleus Coleus blumei
321 Columnea Columnea hirta
322 Concolida Concolida ambigua
323 Congcorang Desmodium triquetrum
324 Congkok Curculigo orchioides
325 Cordyline Cordyline sp
326 Cowehan Ottelia alismoides
327 Cryptotenia Cryptotenea canadensis
328 Cryptotenia Jepang Cryptotenea jeponica
329 Cyclamen Cyclamen
330 Dadap Erythrina
331 Dadap Merah Erythrina crista-galli
332 Dadap Serep Erythrina lithosperma
333 Dadap Varigata Erythrina variegata
334 Dahlia Dahlia pinata
335 Dalu dalu Salix tetrasperma
336 Damar Agathis alba
337 Damar Laki Araucaria canninghamii
338 Damar waja Spergula arvensis
339 Dandang Gendis Clinacanthus nutans
340 Daun ambra Pelargonium radula
341 Daun Dewa Gynura procumbens
342 Daun Kepala tupai Drynaria quersifolia
343 Daun Lilin Bauhinia scandens
344 Daun Pahit Vernonia amygdalina
345 Daun Seribu Achilea millefolium
346 Daun Setan Leucas lavandulaefolia
347 Daun Ungu Graptophylum pictum
348 Delima Punica sp
349 Delima Merah Punica nana
350 Delima Putih Punica granatum
351 Delpinium Delpinium sp
352 Dempul Glochidion rubrum
353 Dempul lelet Glochidion littoral
354 Demung Pseuderanthemum diversifolium
355 Dendranthema Dendranthema
356 Dewa Gynura segetum
357 Diaffen Amuna Diaffenbachia amoena
358 Diaffen Arvida Diaffenbachia arvida
359 Diaffen Camilla Diaffenbachia camilla
360 Diaffen Laut Diaffenbachia marianne
361 Diaffen Maculata Diaffenbachia maculata
362 Diaffen Tropis Diaffenbachia tropic show
363 Diaffenbachia (Sri Rejeki) Diaffenbachia
364 Dieng Abang Chenopodium album
365 Digitalis Digitalis purpurea
366 Dilem Coleus
367 Dracaena Dracaena sp
368 Dracaena Compacta Dracaena compacta
369 Dracaena Florida Dracaena godseffiana
370 Dracaena Fragrans (Hanjuang) Dracaena fragrans
371 Dracaena Sanderiana Dracaena sanderiana
372 Dracaena Surculosa Dracaena surculosa
373 Dracaena Warneckii Dracaena deremensis
374 Dragon Fruit Hylocereus undatus
375 Dringo Acorus calamus
376 Drosera (Bunga embun) Drosera sp
377 Duku Lansium domesticum
378 Dulang-dulang Glochidion obscurum
379 Durian Durio zibethinus
380 Durian Hutan Durio kutejensis
381 Edelweis Anaphalis sp
382 Ekor Keledai Sedum spectabile
383 Ekor Kucing Acalypha hispida
384 Ekor Kucing Typha latifolia
385 Ekor Tupai (Akalifa) Acalypha wilkesiana
386 Elder Sambucus nigra
387 Eleagnus Elaeagnus angustifolia
388 Elletaria Elletaria cardamomum
389 Enceng gondok Eichornia crassipes
390 Erbis Passiflora quandrangularis
391 Erigeron Erigeron
392 Erythrina subumbrans Erythrina subumbrans
393 Euphorbia Euphorbia
394 Eusttoma Eustoma grandiflorum
395 Fagace Fagaceae
396 Fistuca Fistuca arundinaceae
397 Flamboyan Delonix regia
398 Flax Linum usitatissimum
399 Fraxinus Fraxinus americana
400 Gadung Dioscorea composita
401 Gadung Dioscorea hispida
402 Gadung China Smilax china
403 Gaharu Aquilaria malaccensis
404 Gailardia Gaillardia
405 Galing Vitis trifolia
406 Galing Kerbau Cissus adnata
407 Galinggem (Biksa) Bixa orellana
408 Gamal Glyricidia sepium
409 Gambas Luffa acutangula
410 Gambir Uncaria gambir
411 Gamet Ipomoea pes-tigridis
412 Gandapura Gaultheria leucocarpa
413 Gandaria Bouea macrophylla
414 Gandarusa Justicia gendarussa / Gendarusa vulgaris
415 Gandasuli Hedychium coronarium
416 Gandola Basella rubra
417 Gandu Entada phaseoloides
418 Gandum Triticum aestivum
419 Gandum hitam Secale cereale
420 Ganja Cannabis sativa
421 Ganoderma Ganoderma lucidum
422 Ganyong Hutan (Kana) Canna indica
423 Ganyong-ganyongan Cordyline sp
424 Garut Marantha arundacea
425 Garut-garutan Maranta bicolor
426 Gasteria Gasteria
427 Gatep Samadera indica
428 Gayam Inocarpus edulis
429 Gayana Chloris gayana
430 Gazania Gazania
431 Gebang Curypha elata
432 Gedebong Piper aduncun
433 Gedembah Nauclea subdita
434 Gelang Laut Sesuvium portulacastrum
435 Gembili Dioscorea aculeata
436 Gembilina Gmelina
437 Genjer Limnocharis flava
438 Genjoran Digitaria sanguinalis
439 Geraniacea Geraniaceae
440 Geranium Pelargonium graviolens
441 Gerbera Gerbera jamesonii
442 Geronggang Cratoxylon arborescens
443 Gewor Commelia banghalensis
444 Gigil Dichroa febrifuga
445 Ginje menir Scoparia dulcis
446 Ginseng Korea Panax ginseng
447 Ginseng Jawa/Talesom Talinum triangulare
448 Girang Leea rubra
449 Gladiol Gladiol spp
450 Gladiol Gladiolus gandavensis
451 Glagah Saccharum officinarum
452 Gmelina Gmelina arborea
453 Gom Arab Acacia arabica
454 Gondang Ficus variegata
455 Gondorukem Colophonium sp
456 Gravillea Gravillea robusta
457 Gypsophila Gypsophila
458 Hampelas Ficus ampelas
459 Handeuleum Graptophylum pictum
460 Hanjuang Cordyline sp
461 Hanjuang Dracaena fragrans
462 Harendong Melastoma affine
463 Hareneus Rubus moluccanus
464 Haworthia Haworthia sp
465 Hazelnut Corylus americana
466 Helikonia Heliconia psittacorum
467 Henep Hibiscus canabinus
468 Hidrila Hydrila verticillata
469 Hokian Tea Eritia sp
470 Hop Humulus lupulus
471 Hordeum Hordeum vulgare
472 Horenzo Spinacea oleracea
473 Hujan Panas Breynia discigera
474 Hyacinthus Hyacinthus sp
475 Iler Coleus
476 Iles iles Amorphopalus oncophyllus
477 Iles iles Tacca palmata
478 Inai batang Lansonia inermis
479 Ingu Ruta angustifolia
480 Iris Iris germanica
481 Ivy Linaria
482 Jaba Eluisine coracana
483 Jaboticaba Myciarfa cauliflora
484 Jabung Conyza angustifolia
485 Jacaranda Jacaranda aculifolia
486 Jacquemontia tamnifolia Jacquemontia tamnifolia
487 Jagung Zea mays
488 Jahe Croton argyratus
489 Jahe Zingiber officinale
490 Jail Coix lacryma-jobi
491 Jamblang putih Eugenia cumini
492 Jambu Air Syzygium aqueum
493 Jambu Air manis Syzygium semarangense
494 Jambu arang Eugenia claviflora
495 Jambu ayer Eugenia aquea
496 Jambu Biji Psidium guajava
497 Jambu biji kecil Psidium pumilum
498 Jambu bol Syzygium malasccense
499 Jambu klampoh Eugenia densiflora
500 Jambu mawar Eugenia jambos
501 Jambu Mete Anacardium ocidentale
502 Jambu selong Eugenia javanica
503 Jambu-jambuan Myrtaceae
504 Jambul merak Jacaranda filicifolia
505 Jampang (Rumput belulang) Eleusine indica
506 Jamuju Podocarpus imbricatus
507 Jamur Bulat Calvatia gigantia
508 Jamur Champignon Agaricus bisporus
509 Jamur Enokitake Flammunila velutipes
510 Jamur Kancing Agaricus brunescens
511 Jamur Kuping Auricularia auricularia
512 Jamur Maitake Grifola frondosa
513 Jamur Matsutake Agrocybe aegerita
514 Jamur Merang Volvariella volvacea
515 Jamur Paha Ayam Coprinus comatus
516 Jamur Shiitake Lentinus edodes
517 Jamur Tiram Pleurotus ostreatus
518 Jangkang Sterculia foetida
519 Jarak China (Kepyar) Ricinus communis
520 Jarak landi Jatropa gossypifolia
521 Jarak Pagar Jatropa curcas
522 Jarak Pagar (Iri) Jatropha multifida
523 Jaranan Atropha curcas
524 Jaringan Paspalum scrobiculatum
525 Jarong Achyaranthes aspera
526 Jarongan Stachytarpheta mutabilis
527 Jaruju Argemone mexicana
528 Jarum-jarum Pavetta subvelutina
529 Jati Tectona grandis
530 Jati Belanda Guazuma ulmifolia
531 Jawawut Setaria italica
532 Jayanti Sesbania sesban
533 Jebung Sterculia urceolata
534 Jelita Corchorus capsularis
535 Jelutung Dyera costulata
536 Jengger Ayam Celosia cristata
537 Jengkol Pithecelobium jiringa
538 Jenitri Elaeocarpus oxypyrena
539 Jepun Nerium indicum
540 Jeruju Acanthus ilicifolius
541 Jeruk Citrus sp
542 Jeruk Bali Citrus x paradisi
543 Jeruk Keprok Citrus
544 Jeruk Kesturi Citrus mitis
545 Jeruk Kingkit Thriphasia aurantifolia
546 Jeruk Lemon Citrus lemon
547 Jeruk Mandarin Citrus deliciosa
548 Jeruk Manis Citrus onshiu
549 Jeruk Manis Citrus sinensis
550 Jeruk Nipis Citrus aurantifolia
551 Jeruk Purut Citrus hystrix
552 Jeruk Satsuma Citrus unshiu
553 Jeruk Siem Citrus nobilis var microcarpa
554 Jeruk Sukade Citrus medica
555 Jerukan Glycosmis cochin-chinensis
556 Jintan Carus carvi
557 Jintan Pimpinella anisum
558 Jintan Plectranthus amboinicus
559 Jintan hitam Nigella sativa
560 Jintan Putih Cuminum cyminum
561 Johar Cassia siamena
562 Jojoba Simmundsia californica
563 Jombang Cicoria
564 Jubut Melochia umbellata
565 Jukut ibun Drymaria cordata
566 Jukut Jurig Themeda arguens
567 Jukut lokot mata Artemisia vulgaris
568 Jukut Nyenyerean Sporobolus barteroanus
569 Jukut saminggu (Mondreng) Galinsoga parviflora
570 Julans Julans spp
571 Juncus Juncus
572 Jung Pandas Rhus continus
573 Jungrahab Backea frutescens
574 Jute Corchorus olitorius
575 Kaca Piring Gardenia jasminoides
576 Kacang Vigna mungo
577 Kacang (Ginjal) Mesir Lablab niger
578 Kacang Asu Calopogonium mucunoides
579 Kacang Babi Vicia faba
580 Kacang Bogor Voandzeia subterranea
581 Kacang Bulu Glycine soja
582 Kacang Buncis Phaseolus vulgaris
583 Kacang Gude Cajanus cajan
584 Kacang Hijau Phaseolus aureus
585 Kacang Hijau Vigna radiata
586 Kacang Hijau India Phaseolus mungo
587 Kacang Jeriji Dolichos lablab
588 Kacang Kapri Pisum sativum
589 Kacang Kara benguk Mucuna pruriens
590 Kacang Kara Kerupuk Dollchos lablab
591 Kacang Kara Pedang Canavalis ensiformis
592 Kacang Kate Phaseolus trilobus
593 Kacang Katropang Centrosema plumieri
594 Kacang Kayu Laut Pongamia pinnata
595 Kacang Kedelai Glycine max
596 Kacang Keker Cicer arietinum
597 Kacang Koro Phaseolus sp
598 Kacang Koro kratok Phaseolus lunatus
599 Kacang Merah Vigna umbellata
600 Kacang Panjang Vigna sinensis
601 Kacang Parang Canavalia gladiata
602 Kacang Roway Phaseolus lunatus
603 Kacang Ruji Phaseolus pubescens
604 Kacang Ruji Pueraria phaseoloides
605 Kacang Tanah Arachis hypogaea
606 Kacang Tunggak Vigna unguiculata
607 Kacang-kacangan Clitoria cajanifolia
608 Kacang-kacangan Vigna sp
609 Kadaka Asplenium nidus
610 Kadaka tanduk menjangan Asplenium sp
611 Kakao Thebroma cacao
612 Kaktus Opuntia spp
613 Kalamenjana Phalaris arundinacea
614 Kalamenta Leersia hexandra
615 Kaliandra Calliandra haematocephala
616 Kamboja Jepang Adenium obesum
617 Kamboja Putih Plumeria obtusa
618 Kamelia Camellia japonica
619 Kamper Cinnamomum camphora
620 Kana Canna edulis
621 Kana (Ganyong hutan) Canna indica
622 Kana Air Thalia dealbata
623 Kandis Garcinia dioica
624 Kandis Burung Garcinia parvifolia
625 Kandis Gajah Garcinia griffithii
626 Kangkung Ipomoea aquatica
627 Kanitu Chrysophyllum cainito
628 Kantan Alkpinia speciosa
629 Kantil Michelia champaca
630 Kantung Rezeki Dischidia pectinoides
631 Kantung Semar Nephentes sp
632 Kantung Semar Raflesia Nephentes raflesia
633 Kantung Semar Reinwart Nephentes reinwart
634 Kapalan Hoya latifolia
635 Kapas Gossypium hirsutum
636 Kapas-kapasan Malva
637 Kapuk Randu Ceiba petandra
638 Kapulaga Amomum cardamomum
639 Kapulaga Sabrang Elettaria cardomomum
640 Kapulasan Nephelium mutabile
641 Kapundung Baccaurca racemosa
642 Kapur Dryobalanops camphora
643 Kapur Barus Cinnamomum camphora
644 Karandan Carissa carandas
645 Karet Havea brasiliensis
646 Karet India Ficus elastica
647 Karet Kebo Ficus elastica
648 Karuk Piper sarmentosum
649 Kasia Cassia multijuga
650 Kasingsat Cassia occidentalis
651 Kaso Saccharum spontaneum
652 Kastuba Euphorbia pulcherima
653 Kasturi Abelmoschus moschatus
654 Katimaga Kleinhovia hospita
655 Katuk Sauropus androginus
656 Katumbul Glochidion molle
657 Katumpangan Pilea microphyla
658 Katuri Garcinia bancana
659 Kawista Feroniella elephantum
660 Kawista Scinus molle
661 Kayu Apu Pistia stratiotes
662 Kayu Hurip Euphorbia tirucali
663 Kayu Jaran Dolichandrone spathacea
664 Kayu Kancil Anisophyllea disticha
665 Kayu Manis Cinnamomum burmani
666 Kayu Manis Cinnamomum verum
667 Kayu Manis Cinnamomum zaylanicum
668 Kayu Manis Glycynnhiza glabra
669 Kayu Palembang Lannea grandis
670 Kayu Penawar Sophora tomentosa
671 Kayu Putih Eucalyptus globulus
672 Kayu Putih Melaleuca leucadendron
673 Kayu Rah Horsfieldia irya
674 Kayu Raja (Trangguli) Cassia fistula
675 Kayu Rapet Parameria laervigata
676 Kayu Santan Kibatalia arborea
677 Kayu Simpai Knema intermedia
678 Kayu Tahi Celtis wightii
679 Kayu Ujan Millettia atropurpurea
680 Kayu Ules Helicteres isora
681 Kayumanis Cina Cinnamomum cassia
682 Keben Barringtonia asiatica
683 Kecapi Sandoricum kcetjapie
684 Kecipir Psophocarpus tetragonolobus
685 Kecombrang / Honje Nicolaia speciosa
686 Kecombrangan Pittosporum ferrugneum
687 Kecondang Tacca leontopetaloides
688 Kecubung Datura metel
689 Kedawung Parkia roxburghii
690 Kedondong Spandias mombin
691 Kedondong Spandias pinnata
692 Kedondong Bangkok Spondias dulcis
693 Kedondong Cina Spondias purpurea
694 Kedondong laut Polyscias fruticosa
695 Kejibeling Sericocalyx crispus
696 Keladi Caladium sp
697 Kelapa Cocos nucifera
698 Kelapa Sawit Elaeis guineensis
699 Kelempayang Nauclea cadamba
700 Kelor Moringa oleifera
701 Kemangi Ocimum basilicum
702 Kemangi Besar Ocimum gratissimum
703 Kemenyan Styrax officinalis
704 Kemiren Hernandia peltata
705 Kemiri Aleurites moluccana
706 Kemiri Cina Aleurites trisperma
707 Kemloko Phyllanthus emblica
708 Kemukus Piper cubeba
709 Kemuning Murraya paniculata
710 Kenaf Hibiscus cannabinus
711 Kenanga Canangium odoratum
712 Kenari Canarium commune / C. Avenue
713 Kencur Kaempferia galanga
714 Kendal Cordia dichotoma
715 Kenikir Cosmos caudatus
716 Kenikir Tagetes patula
717 Kentang Solanum tuberosum
718 Kentang Jawa Coleus tuberosus
719 Kepel Stelechocarpus burahol
720 Kepuh Sterculiafoetida
721 Keranji Dialium indum
722 Kesambi Scheichera oleosa
723 Kesambi Scheichera trijuga
724 Kesemek Diospyros kaki
725 Kesemek Diospyros lotus
726 Ketapang Terminalia catapa
727 Ketepeng Cassia alata
728 Ketepeng Kebo Cassia
729 Ketiau Madhuca mottleyana
730 Ketul (Ambong-ambong) Bidens pilosa
731 Ketumbar Coriandrum sativum
732 Ketumbar Jawa Eryngium foetidum
733 Ki pait Tithonia diversifolia
734 Ki payung Biophytum sensitivum
735 Ki semir Hura crepitans
736 Kibesin Centrosema pubescens
737 Kina Cinchona pubeschens
738 Kismis Muehlenbeckia platyclada
739 Kiwi Actinidia chinensis
740 Klembak Rheum sp
741 Klengkeng Nephelium longanum / Dimocarpus longan
742 Kol Banda Pisonia alba
743 Kol rabi Brassica napus
744 Kola Cola nitida
745 Kolesom Talinum paniculatum
746 Kolokasia Colocasia sp
747 Komfrey Symphytum officinale
748 Komoi Diospyros malabarica
749 Kongea Congea velutina
750 Koo Chai Allium tuberosum
751 Kopi Coffea
752 Kopi Arabica Coffea arabica
753 Kopi Hutan Fagraea racenosa
754 Kopi Hutan Foffea malayana
755 Kopi Utan Canthium dicoccum
756 Kosar Artocarpus rigida
757 Kotek Cassia grandis
758 Kremah Alternanthera sessilis
759 Krisan Chrysanthemum morifolium
760 Krokot Alternanthera ficoidea
761 Krokot Portulaca oleracea
762 Kroton Codiaeum variegatum
763 Kroton Croton liglium
764 Kubis Brassica oleraceae
765 Kubis Bunga Brassica oleracea var botrys
766 Kubis Krop Brassica oleracea var capitata
767 Kucai Allium odorum
768 Kukurang Picria fel-terrae
769 Kukuron Gynotroches axillaris
770 Kumis Kucing Orthosiphon aristatus
771 Kumis Kucing Orthosiphon stamineus
772 Kumkwat Eugenia dombeyi
773 Kumuning gajah Murraya calocylon
774 Kunci Pepet Kaempferia angustifolia
775 Kunyit Curcuma domestica
776 Kupa Syzygium polycephalim
777 Kuping Gajah (Anthurium) Anthurium crystallinum
778 Kuping Macan Sacifraga sarmentosa
779 Kupu putih Syngonium
780 Kurma Phoenix dactylifera
781 Kurma canary Phoenix canariensis
782 Kursani Vernonia anthelmintica
783 Kutum Mitragyna speciosa
784 Kwini Mangifera odorata
785 Labu Cucurbita spp
786 Labu Botol Lagenaria vulgaris
787 Labu Jepang Cucurbita moschatta
788 Labu Kuning Cucurbita pepo
789 Labu Manis Cucurbita pepo
790 Labu Merah Cucurbita moschata
791 Labu Putih Lagenaria leucantha
792 Labu Siam Sechium edule
793 Labu Sucini Cucurbita pepo
794 Lada Piper nigrum
795 Lada Panjang Piper retrofractum
796 Lampenas Lactuca indica
797 Lamtoro Gung Leucaena leucephala
798 Langkap Arenga obtusifolia
799 Langkuwas Malaka Alpinia malaccensis
800 Lantana Lantana camara
801 Lateng Ocimum sanctum
802 Lathyrus Lathyrus sativus
803 Lavender Lavandula angustifolia
804 Lawang Cinnamomum culilawan
805 Leci Nephelium litchi / Lichi chinensis
806 Legatan Spilanthes iabadicensis
807 Legundi Vitex trifoliata
808 Lelet Helicteres hirsuta
809 Lemo Litsea cubeba
810 Lempuyang Zingiber aromaticum
811 Lempuyang Zingiber zerumbet
812 Lengkuas Languas galanga
813 Lentil Cullinaris
814 Lepidium Lepidium sp
815 Lerak Sapindus rarak
816 Lidah Ayam Rubia cordifolia
817 Lidah Buaya Aloe vera
818 Lily Homerocallis sp
819 Lily Kradelbut Rhoeo
820 Lily Paris Chlorophytum
821 Limau Kasturi Citrus microcarpa
822 Lintahan Desmodium
823 Lobak Raphanus sativus
824 Lobi-lobi Palaquium lobbianum
825 Lokwat Eriobotryya japonico
826 Lonicera Lonicera tatarica
827 Lontar Borassus flabelifer
828 Lotus Nelumbo pentapetala
829 Lowa Ficus racemosa
830 Lupin Lupinus
831 Luwing Ficus hispida
832 Lycium Lycium
833 Lythrum salicaria Lythrum salicaria
834 Macrotylama Macrotyloma
835 Mahang Macaranga javanica
836 Mahoni Swietenia mahagoni
837 Maja Aegle marmelos
838 Maja Keling Terminalia citrina
839 Majakane Quercus lusitanica
840 Makadamia Macadamia antegrofolia
841 Malela Brachiaria sp
842 Malpighia Malpighia punicifolia
843 Maman Cleome speciosa
844 Mangga Mangifera indica
845 Manggis Garcinia mangostama
846 Mangkokan Nothopanax scutellarium
847 Manis Jangan Cinnamomum burmani
848 Mara Macaranga tanarius
849 Maranta (Garut hias) Maranta
850 Maranta Merah Maranta leuconeura
851 Markisa (Buah monyet) Passiflora edulis
852 Markisa Pisang Passiflora mollissima
853 Markisa Sayur Passiflora quadrangularis
854 Mata ayam Baccaurea brevipes
855 Mata Pelanduk Ardisia irenata
856 Mawar Rosa sp
857 Maya-maya Sapium baccatum
858 Mayang Batu Madhuca cuneata
859 Mayang Wangi Palaquium obovatum
860 Medang Kurusi Gironniera parviifolia
861 Medinilla Medinilla magnifica
862 Melati Jasminum sambac
863 Melati Carolina Gelsemium sempervirens
864 Melinjo Gnetum gnemon
865 Melon Cucumis melo
866 Melur Dacrydium elatum
867 Mempelam Mangifera indica
868 Menarong Trema virgata
869 Mengkelingan Eugenia cymosa
870 Mengkudu Morinda citrifolia
871 Meniran Phyllanthus niruri
872 Mentalun Terminalia pyrifolia
873 Mentimun Cucumis sativus
874 Mentimun Jepang Cucumis sativus var Japonese
875 Mentol Mentha piperita
876 Meranti Shorea sp
877 Merbau Intsia amboinensis
878 Merliman Streblus ilicifollus
879 Mesoyi Massoia aromatica
880 Meyong Mallotus philippinensis
881 Mimba Azadirachta indica
882 Mindi Melia azedarach
883 Mint Mentha piperita
884 Miracle Synsepalum dulcificum
885 Mirten Malphigia coccifera
886 Mitshuba Oenanthe linearis
887 Miyana Iresine
888 Mochie Adenium sp
889 Mondreng (Jukut saminggu) Galinsoga parviflora
890 Monstera Monstera deliciosa
891 Mosaik Fittonia
892 Mundar Garcinia forbesii
893 Mundu Garcinia dulcis
894 Murbei Morus alba
895 Mussaenda Mussaenda phillipica
896 Mutoh Erythroxylon cuneatum
897 Myoporum Myoporum
898 Myosotis Myosotis
899 Myrrha Commiphora mirrha
900 Nagasari Mesua nagassarium
901 Namnam Nephelium sp
902 Nampis (Kampis) Hernandia peltata
903 Nanas Ananas comosus
904 Nanas Aechmae Aechmae
905 Nanas Buah Ananas comosus
906 Nanas Kuku jari merah Noeregelia spectabilis
907 Nanas Kuning Cryptanthus bivittatus
908 Nanas Lurik Cryptanthus zonatus
909 Nanas Merah Cryptanthus acaulis
910 Nanas Nerogelia Neoregelia
911 Nanas Tricolour Cryptanthus bromeliodes
912 Nanas Vriesea Vriesea
913 Nanas Wangi Salvia
914 Nanas zebra Cryptanthus zonatus zebrinus
915 Nandina Nandina domestica
916 Nandina Nicandra physalodes
917 Nangka Artocarpus heterophyllus
918 Nenas Belanda Agave cantala
919 Nila Indigofera hendecaphylla
920 Nilam Pogostemon cablin
921 Nilam Aceh Pogostemon cablin
922 Nilam Bunga Pogostemon heyncanus
923 Nilam Jawa Pogostemon hortensis
924 Nipah Nipa fruticans
925 Nolina Beaucarnea recurvata
926 Nona Annona reticulata
927 Nona Annona sp
928 Nona Makan Sirih Clerodendron thomsonae
929 Nona Sabrang Annona glabra
930 Nusa Indah (Musaenda) Mussaenda phillipica
931 Nyamplung Callophyllum inophyllum
932 Nyiur Lodoicea maldivica
933 Oat Avena sativa
934 Okra Abelmoschus esculenthus
935 Oleaceae Oleaceae
936 Opiopogon Ophiopogon japonicus
937 Orang-aring Maoutia diversifolia
938 Orok orok Crotalaria
939 Orok-orok Crotalaria ferruginea
940 Oyod Peron Anamirta coculus
941 Pacar air Impatiens balsamina
942 Pacar Air Impatients walleriana
943 Pacar Cina Aglaia odorata
944 Pacar Jawa Lawsonia inermis
945 Pace Bancudus latifolia
946 Pachira Pachira aquatica
947 Padi Oryza sativa
948 Padi Ketan Oryza glutinosa
949 Padi-padian Serealea
950 Pagagan Centella asiatica
951 Pakis haji Cycas rumphii
952 Pakis Rawa Ceratoptaris thalictroides
953 Paku bening Lindsaea scandens
954 Paku Ekor Kuda Equisetum hyemale
955 Paku Pakis Kelabang Nephrolepis exaltata
956 Paku Sarang burung Asplenium nidus
957 Pala Myristica fragrans
958 Palasa Butea monosperma
959 Palem Ekor ikan Caryota
960 Palem Gebang Corypha spp
961 Palem Janggut Coccothrinax crintia
962 Palem Jepang Ptychosperma macarthurii
963 Palem Kipas Livistona chinensis
964 Palem Kuning Chrysalidocarpus
965 Palem Loreng Licuala mattanensis
966 Palem Merah Cyrtostachys lakka
967 Palem Parlor (salon) Chamaedorea elegans
968 Palem Phoenix Phoenix
969 Palem Senegal Phoenix reclimata
970 Palem Weregu Rhapis excelsa
971 Palma Palmae
972 Palungpung Phragmites karka
973 Pancar Antiaris toxicaria
974 Pandan Pandanus
975 Pandan Bali Dracaena draco
976 Pandan Pudak Pandanus tectorius
977 Pandan Wangi Pandanus amaryllfolium
978 Panili Vanilla planifolia
979 Paprika Capsicum annuum var Grossum
980 Pare Momordica charantia
981 Pare Ular Trichosanthes cucumerina
982 Pare welut Trichosanthes anguina
983 Parsley (Peterseli) Petroselinum sativum
984 Parsnip Pastinaca sativa
985 Parthenocissus Parthenocissus spp
986 Pasak Bumi Eurycoma longifolia
987 Pasang Iyang Quercus conocarpa
988 Pasang Simpenu Quercus cyclophora
989 Pasilan Kalapa Drynaria rigidula
990 Pathenium argentatum Parthenium argentatum
991 Patikan Kebo Euphorbia hirta
992 Pecan Corya illinoensis
993 Pecut Kuda Stachitarpheta indica
994 Pedilantus Pedilanthus
995 Pelargoni Pelargonum domesticum
996 Pelong Pentaspadon officinalis
997 Pena Nagasari Mesua ferea
998 Pepaya Carica papaya
999 Peperomia Peperomia obtusifolia
1000 Peperomia ekor tikus Peperomia elusiaefolia
1001 Perilla Perilla frutescens
1002 Permot Passiflora foetida
1003 Persik Prunus persica
1004 Petai Parkia speciosa
1005 Petai Cina Leucaena leucephala
1006 Peterseli Petroselinum crispum
1007 Petsai Brassica chinensis
1008 Petunia Petunia hybrid
1009 Phelum Phelum pratense
1010 Philadelphus Philadelphus
1011 Philo Daun Belah (Monesterea) Monstera deliciosa
1012 Philo Daun Bolong Monstera obliqua expilata
1013 Philo Lynette Philodendron lynette
1014 Philo Redwing Philodendron sp
1015 Philodendron Phoilodendron sp
1016 Philodendron Rubrum Philodendron rubrum
1017 Phlox Phlox sp
1018 Picisan Cyclophorus numularifolius
1019 Pilea Pilea sp
1020 Pilin Cassia nodosa
1021 Pinang Areca catechu
1022 Pinang Hutan Areca macrocalyx
1023 Pinang Punai Elaeocarpus petiolatus
1024 Pinang Raja Crytostachys lakka
1025 Pinus Casuarina equisetifolia / Pinus longaeva/Pinus mercusii
1026 Pir Pyrus communis
1027 Piretrum Chrysanthemum cinerariaefolium
1028 Pisang Musa paradisiaca
1029 Pisang Musa spp
1030 Pisang Badak Musa nana
1031 Pisang Kapok Musa x paradisiaca
1032 Pisang Kipas Ravenala madagascariensis
1033 Pisang Serat Musa textilis
1034 Pisang Utan Musa acuminta
1035 Pistachio Pistacia vera
1036 Pittosporum Pittosporum
1037 Plam Prunus domesticum
1038 Plantago Plantago sp
1039 Platycladus orientalis Platycladus orientalis
1040 Plumbago Plumbago
1041 Poa Poa prasentis
1042 Pohon Bulan Endospermum malaccense
1043 Pohon Kasuwari Casuarina nodiflora
1044 Pohon Kupu kupu Bauhinia acuminata
1045 Pohon kupu-kupu Bauhinia
1046 Pokak Solanum torvum
1047 Poko Mentha arvensis
1048 Poko Mentha spicata
1049 Poncosudo Jasminum multiflorum
1050 Populus Populus
1051 Portulaka Portulaca grandiflora
1052 Prambos Rubus spp
1053 Prasman Eupatorium triplinerve
1054 Primula Primula obconica
1055 Pring-pringan Pogonantherum paniceum
1056 Procopis Procopis juliflora
1057 Pronojiwo Euchresta horsfieldii
1058 Prosopis Procopis chilensis
1059 Pseudotsuga Pseudotsuga menziesii
1060 Pudu Artocarpus kemando
1061 Pulasan Nephelium lappaceum
1062 Pule Alstonia scholaris
1063 Pule Pandak Rawvolfia serpentina
1064 Pulosari Alyxia stellata
1065 Pulus Laportea stimulans
1066 Puring Codiaeum
1067 Puring Codiaeum variegatum
1068 Purwoceng Pimpinella alpina
1069 Putri Malu Mimosa
1070 Putri Malu Mimosa pudica
1071 Pyracantha Pyracantha coccinea
1072 Pyrethrum Pyrethrum spp
1073 Raflesia Rafflesia arnoldi
1074 Rambutan Nephelium lappaceum
1075 Rami Boehmeria nivea
1076 Randa Randia macrophylla
1077 Randu Ceiba petandra
1078 Randu alas Bombaxma labaricum
1079 Ranti Solanum nigrum
1080 Rape Brassica napus var. napus
1081 Rasamala Altingia exelsa Norona
1082 Rebah Bangun Mimosa invisa
1083 Remek Daging Hemigraphis alternata
1084 Renghas Gluta renghas
1085 Resam lumut Cheilantes tennisfolia
1086 Rhododendron Rohododendron
1087 Rhynchelytrum rapens Rhynchelytrum rapens
1088 Ribes Ribes
1089 Rollinia mucosa Rollinia mucosa
1090 Rosela Hibiscus sabdariffa
1091 Rotan Irit Calamus trachycoleus
1092 Rotan Lilin Calamus javensis
1093 Rotan Manan Calamus manan
1094 Rotan Sega Calamus caesius
1095 Rotan Tikus Plectocomia elongata
1096 Rubi Rubiaceae
1097 Rubra Cordyline sp
1098 Rudbeckia laciniata Rudbeckia laciniata
1099 Rukem Flacourtia indica
1100 Ruku-ruku Ocimum sanctum
1101 Rumbia Metreoxylon rumphii
1102 Rumbut Balungan Panicum repens
1103 Rumput air Poa annua
1104 Rumput Angin Spinifex littoreus
1105 Rumput Asinan Paspalum vaginatum
1106 Rumput Australi Paspalum dilatatum
1107 Rumput Babi Leptaspis urceolata
1108 Rumput Bajra Pennisetum glaucum
1109 Rumput Bajra Pennisetum purpureum
1110 Rumput Bebek Echinochloa sp
1111 Rumput Belang Zebrina pendula
1112 Rumput Belulang (Jampang) Eleusine indica
1113 Rumput Benggala Panicum maximum
1114 Rumput Bulu Merak Schizaea dichotoma
1115 Rumput Dum Diaffenbachia
1116 Rumput Gajah Penisetum purpureum
1117 Rumput Grinting Cynodon dactylon
1118 Rumput Jampang Artocarpus elasticus
1119 Rumput Jampang Digitaria sp
1120 Rumput Jarum Chrysopogon aciculata
1121 Rumput Jejarongan Chloris barbata
1122 Rumput Kerbau Paspalaum conyugatum
1123 Rumput Laut gracilaria sp
1124 Rumput Malela (Malela) Brachiaria sp
1125 Rumput Mutiara Hedyotis corymbosa
1126 Rumput Natal Rhynchelytrum roseum
1127 Rumput Pait Axonopus compresus
1128 Rumput Panicum Panicum maximum
1129 Rumput Paspalum Paspalum
1130 Rumput Payung Cyperus papyrus
1131 Rumput Peking Zuysia matrela
1132 Rumput Pelargoni (Pelargoni) Pelargonium
1133 Ruta Ruta graviolens
1134 Sadu Melia indica
1135 Saga Hutan Adenanthera microsperma
1136 Saga Manis Abrus precatorius
1137 Sagu Metroxylon sago
1138 Salada Air Nasturtium officinale
1139 Salak Salacca edulis
1140 Salam Eugenia aperculata
1141 Salamandar Grevillea robusta
1142 Salangi Samadera indica
1143 Salix Salix sp
1144 Sambiloto Andrographis paniculata
1145 San chang Dillenia Pentagyna
1146 Sancang Phemna microphylia
1147 Sangitan Sambucus javanica
1148 Sangket Basilicum polystachyon
1149 Sangketan Heliotropium indicum
1150 Sangkir Homonoia riparia
1151 Sansevieria Lidah mertua Sansevieria trifasciata
1152 Sansevieria Silindris Sansevieria cylindrica
1153 Santigi Phempis acidula
1154 Sapratu Sindora sumatrana
1155 Saraka Saraca indica
1156 Sarang Semut Myrmecodia sp
1157 Sarang Semut Irian Myrmecodia tuberosa
1158 Saray Caryota mitis
1159 Sawi Hijau Brassica campestris
1160 Sawi Putih Brassica juncea
1161 Sawi Tanah Nasturtium indicum
1162 Sawo Zapota
1163 Sawo Duren Crateva religiosa
1164 Sawo hijau Chrysophyllum
1165 Sawo Kecik Manilkara kauki/ M. Achras
1166 Sawo Malaysia Achras zapota
1167 Sawo Manila Achras zapota var depressa
1168 Sawo Putih Pulu Pisonia sylvestris
1169 Scabiosa Scabiosa atropurpurea
1170 Sciadopitys Sciadopitys verticillata
1171 Scorzonera hispanica Scorzonera hispanica
1172 Secang Caesalpinia sappan
1173 Sedap Malam Polianthes tuberose
1174 Sedum Sedum morgalnianum
1175 Selada Lactuca sativa
1176 Selada Air Pistia stratiotes
1177 Selar makan Guettarda speciosa
1178 Selasihan Cinnamomum parthenoxylon
1179 Seledri Apium graviolens
1180 Semanggi Hydrocotyle sibthorpioides
1181 Semangka Citrulus vulgaris
1182 Sembukan Paedaria foetida
1183 Sembung Blumea balsamifera
1184 Sembung Gilang Vernonia arborea
1185 Seminai Madhuca utilis
1186 Sempur Dillenia exelsa
1187 Sempur Cai Dillenia indica
1188 Sena Cassia angustifolia
1189 Sendokan Palntago mayor
1190 Sendudok Melastoma malabathricum
1191 Senecio Senecio cruentus
1192 Senggugu Clerodendron serratum
1193 Sengon Buto Enterolobium cyclocarpum
1194 Sengon Laut Albizia falcataria
1195 Senkam Glochideon laevigatum
1196 Sente Alocasia macrorhiza
1197 Sequen Sequoia sempervirens
1198 Serai Wangi Cymbopogon citratus
1199 Serei Cymbopogon nardus
1200 Serisa Serissa foetida
1201 Seruni Chrysanthemum indicum
1202 Serut Streblus asper
1203 Sesudu Euphorbia antiquorum
1204 Seteria Seteria qlaucea
1205 Sidaguri Sida rhombifolia / S retusa
1206 Sikas Cycas revoluta
1207 Simambu Calamus scipionum
1208 Simbar Menjangan Platicerium sp
1209 Sinapsis Sinapsis alba
1210 Sindur Sindora javanica
1211 Singkong Karet Manihot glaziovii
1212 Sireh Ayer Piper miniatum
1213 Sirih Piper Betle
1214 Sirih Belanda Scindapsus
1215 Sirih merah Piper crocatum
1216 Sirsak Annona muricata
1217 Sisal Agave sisalana
1218 Sisik Betok Desmodium triflorum
1219 Sisik Naga Drymoglosum piloselloides
1220 Siur Xanthophyllum lanceatum
1221 Skila Scilla
1222 Slada Air Rorripa nasturtium
1223 Soga Pettophorum inerme
1224 Soka Ixora paludosa
1225 Solidago Solidago canadanensis
1226 Song of India Pleomele
1227 Sono Dalbergia latifolia
1228 Sono Keling Dalbergia pinnata
1229 Sorbus Sorbus americana
1230 Sorgum Sorgum bicolor
1231 Sorgum Sorgum halepense
1232 Sosor Bebek Kalanchoe pinnata
1233 Spartium junceum Spartium junceum
1234 Spathiphyllum Spathiphylum sp
1235 Spinacia oleracea Spinacia oleracea
1236 Spiraeae Spiraeae vanhouttei
1237 Sri Rejeki Diaffenbachia
1238 Srigading Nyctanthes arbor-tristis
1239 Srikaya Annona squamosa
1240 Srikaya Australia Anonna atemoya
1241 Srikonta Acacia farnesiana
1242 Stapelia Stapelia
1243 Stefanot Putih Stephanotis floribunda
1244 Stroberi Fragaria vesca
1245 Subeng-subeng Scaevolia frutescens
1246 Suji Pleomele angustifolia
1247 Sukun Artocarpus communis
1248 Sumatera Sentul Enhalus acoroides
1249 Sungsang Gloriosa superba
1250 Suplir Adiatum sp
1251 Suren Toona sureni
1252 Surveg Amorphopalus bulbifer
1253 Suweg Amorphopalus companulatus
1254 Taban Baccaurea reticulata
1255 Tabat Barita Ficus deltoidea
1256 Tagetes (telekan) Tagetes erecta
1257 Talas Colocasia esculenta
1258 Tali Kuning Arcangelisca flava
1259 Tali Putri Cassytha filiformis
1260 Talok Muntingia calabura
1261 Tampang Artocarpus bornensis
1262 Tangkalak Litsea sebifera
1263 Tangkalak terindak Isoptera borneensis
1264 Tanglin Saraca thaipingensis
1265 Tanjung Mimosops elengi
1266 Tapak Dara Vinca rosea
1267 Tapak Hantu Trevesia chelrantha
1268 Tapak Liman Elephantopus scaber
1269 Tarum Indigofera suffruticosa
1270 Tebu Saccharum officinale
1271 Teh Camellia sinensis
1272 Teh Kembang Matricaria Chamomilla
1273 Teki Cyperus roduntus
1274 Teki Laut Cyperus longus
1275 Tekik Albizzia lebbeck
1276 Telang Clitoria ternatea
1277 Telekan (tagetes) Tagetes patula
1278 Tembakau Nicotiana tabacum
1279 Tempayang Firmiana affinis
1280 Tempuyung Sonchus arvensis
1281 Temu Giring Curcuma heyneanae
1282 Temu Hitam Curcuma aeruginosa
1283 Temu Kunci Boesenbergia pandurata
1284 Temu Lawak Curcuma xanthorrhizae
1285 Temu Putih Kaempferia rotundra
1286 Tengkawang tungkil Shorea stenoptera
1287 Teratai Neliumbium nucifera
1288 Teratai Gunung Gunnera macrophylla
1289 Teratai Raksasa Victoria amazonia
1290 Terebak Rhinacanthus nasutus
1291 Terong Solanum melongenae
1292 Terong kuning Solanum quitoense
1293 Terung Belanda Cyphomandra betacea
1294 Terung Cina Solanum macrocarpon
1295 Terung Jepang Solanum melongena var Esculentum
1296 Terung Susu Solanum mammosum
1297 Thyme Thymus vulgaris
1298 Timun Tahil Randia spinosa
1299 Tomat Lycopersicon esculentum
1300 Tongkeng Telosma cordata
1301 Trangguli (Kayu Raja) Cassia fistula
1302 Trembesi Samanea saman
1303 Trengguli Cassia javanica
1304 Trenggulum Protium javanicum
1305 Tuba Derris eliptica
1306 Tulip Spathodea campanulata
1307 Turi Sesbania grandiflora
1308 Turnip Brassica rapa
1309 Ubi Jalar Ipomoea batata
1310 Ubi Kayu Manihot esculenta
1311 Ubi Kayu Manihot utilisima
1312 Ubi kelapa Dioscorea alata
1313 Urang-aring Eclipta alba
1314 Violet Violces
1315 Violet (Bunga) Viola odorata
1316 Walisongo Schefflera actinophylla
1317 Walisongo varigata Schefflera variegata
1318 Walnut Juglans
1319 Walnut Aquatica Juglans aquatica
1320 Walnut Cinerea Juglans cinerea
1321 Walnut Hitam Juglans nigra
1322 Walnut Inggris Juglans regia
1323 Walnut Mayor Juglans major
1324 Wareng Gmelina elliptica
1325 Waru Hibiscus tiliaceus
1326 Waru landak Hibiscus mutabilis
1327 Wewean Monochoria hastata
1328 White Walnut Juglans cinerea
1329 Widuri Calotropis gigantea
1330 Wijayakusuma Epiphyllum oxypetalum
1331 Wijen Sesamum indicum
1332 Wortel Daucus carota
1333 Yakon Smallanthus sonchifolius
1334 Yuka Yucca aloifolia
1335 Zaitun Olea europea
1336 Zebrina Zebrina pendula / Cyanotis vittata

software


Page 1 of 212»

PDFTiger Word to PDF Converter and Creator + Free Registration Code Giveaway

PDF is almighty portable document format that widely used in any fields on the world. You might need the PDF formatted files to share your articles, publication, journal or any other writings with your friends or another. By use PDF files it’s can save a lot of paper it will save a lot of trees, [...] Continue Reading..
Posted in Giveaway

//
//

Sponsored Links

5
October
2010

0 Comments

WinX HD Video Converter Deluxe For Windows (Full Version Giveaway)

As one of the world’s video editing software company, Digiarty Software Inc. released its newest product, WinX HD Video Converter Deluxe For Windows. WinX  HD Video Converter Deluxe is one of the software that will help you to convert video from one file type into other file types, such as converting AVI video file into [...] Continue Reading..
Posted in Free Stuff

29
April
2010

1 Comments

Free Vector Social Media Icons

Vector Social Media Icons is a free icons set that includes 50 icons of the most popular social media sharing website in the internet. With the vector image format designed in 32px and 64px, you can scale the icon image to any size to fit with your design or use it in high quality print [...] Continue Reading..
Posted in Free Stuff

3
April
2010

2 Comments

SpeedTest: The Global Internet Broadband Speed Analyzer

Speedtest.net is an Internet connection speed analysis tool that allows anyone to test their Internet connection such us broadband, dial-up, 3G/UMTS, HSDPA, WiFi, WiMax, LTE connection, and etc. It’s a web based Internet speed tester. Ookla provides this service for free to anyone curious about the performance of their connection to and from hundreds of [...] Continue Reading..
Posted in Free Stuff

29
September
2009

1 Comments

Windows 7 Build 7xxx Activation Keys

However Microsoft has discontinued windows 7 public beta download and chances are high that many users will move towards windows 7 build 7xxx download to enjoy Windows 7. Once you have downloaded windows 7 Build 7xxx the next step will be to activate. Microsoft has given free Windows 7 Beta 1 build 7000 activation keys [...] Continue Reading..
Posted in

Page 1 of 212»

download aplikasi